PENGANTAR
Dalam
bulan Februari 2005, saya mengikuti sebuah ekspedisi kecil ke Ternate dan Halmahera . Salah
satu tujuan dari ekspedisi itu adalah untuk melakukan investigasi terhadap “Ternate
Paper”, sebuah karya ilmiah yang ditulis oleh Wallace sekitar 150 tahun lalu di
sebuah tempat di Halmahera . Paper ini sangat terkenal karena isinya berisi cikal bakal pemikiran tentang teori
evolusi. Paper ini juga terkenal karena Darwin sebagai bapak
evolusi dituduh telah mencuri gagasan dari paper ini.
Seorang
di antara peserta ekspedisi itu adalah David Hallmark, seorang pengacara
Inggris yang sedang menyusun gugatan publik terhadap Darwin .
Selama perjalanan ke berbagai tempat di Halmahera
itu, David telah berbaik hati memberi saya kesempatan untuk mengetahui lebih
jauh tentang persoalan ini. Sementara, dari
salah seorang rekannya, Paul Sochaczewski, yang memimpin perjalanan ekspedisi dan
memiliki gagasan untuk mendirikan museum Wallace di Ternate, saya juga memperoleh
bahan-bahan cetakan yang memperkaya pemahaman saya akan topik ini. Artikel berikut ini saya susun berdasarkan hasil
perbincangan dengan David serta dari bahan-bahan cetakan milik Paul yang dia
ijinkan untuk saya fotokopi.
Artikel
ini pernah dimuat di Harian Media Sulut tanggal 3 dan 4 Maret 2009. Disini saya hanya melakukan sedikit perbaikan
bahasa saja. Perlu juga saya tambahkan bahwa kira-kira seminggu sesudah artikel ini diterbitkan oleh Media Sulut, Mingguan
Tempo (Jakarta )
juga menerbitkan ulasan yang mirip. Tapi
karena saya sudah lebih dulu menerbitkan tulisan saya, saya tak merasa telah
mendapat untung apalagi mencuri ide dari adanya ulasan Mingguan Tempo
tersebut. Tulisan ini adalah murni
gagasan saya.
***
Posisi Darwin sebagai pencetus teori
evolusi sedang goyah. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa bukan cuma dia
pencetusnya. Malah dia dituduh
melakukan plagiarisme. Beberapa gagasan dari
teori yang dia tulis dalam On the Origin
of Species konon diilhami dari ide orang lain. Ironisnya, bukan cuma Darwin yang terlibat disini, tapi juga beberapa
ilmuwan ternama, dan mereka adalah teman-teman baiknya. Benarkah demikian?
Charles Robert Darwin (1809-1882) mengawali
karir ilmiahnya ketika usianya masih sangat muda. Dia baru 22 tahun ketika ikut dengan Beagle
(1831), sebuah kapal penelitian yang waktu itu akan berlayar di wilayah
Atlantik, Pasific, dan perairan Australia selama 4 tahun untuk eksplorasi
ilmiah. Tapi rasa ingin tahu yang besar telah
mendorong Darwin
muda ini melakukan penyelidikan terhadap berbagai fenomena alam yang ditemuinya,
dan ini mengubah dia menjadi seorang ilmuwan yang disegani.
Fosil rupanya mendapat perhatian khusus Darwin karena selama
perjalanan dia membawa buku Principles of
Geology, karya
Charles Lyell yang baru terbit. Waktu
itu, Lyell adalah ilmuwan terkemuka dan ‘teori-teori liar’ yang dikemukakan
dalam buku itu membuat Darwin
terpesona. Menurut Lyell, benua, daratan
dan pegunungan tidak dibentuk oleh air bah zaman Nuh, tapi oleh hujan, angin,
gempa bumi serta kekuatan alam lainnya. Lyell
menjadi teman Darwin , dan selanjutnya menjadi
orang yang amat berperan dalam karir ilmiah Darwin .
Sekembali dari perjalanan, di tengah-tengah
kesibukan menyusun laporan serta meneliti spesimen-spesimen yang dikoleksinya, Darwin mulai mengembangkan
pemikiran tentang evolusi, antara lain tentang dari mana kah asal jenis. Dia juga menulis beberapa esai, di antaranya On Transmutation of Species (1837). Dia meyakini beberapa hal yang waktu itu
masih baru dan kontroversial, seperti keanekaragaman hayati tidak muncul karena
sekali penciptaan, dan bahwa fosil adalah petunjuk bahwa jenis-jenis telah
berganti dari waktu ke waktu.
Dalam bulan Oktober 1838, ketika tidak
sengaja membaca karya Thomas Malthus An
Essay on the Principle of Population (1803), Darwin merasa menemukan jawaban atas sejumlah
pertanyaan yang tengah memusingkan dia. Dalam
buku itu Malthus menunjukkan bahwa seandainya tak ada perang, kelaparan dan
penyakit, populasi manusia niscaya akan memenuhi dunia. Jadi ada peran seleksi dalam hal ini. Jika hal ini diterapkan di alam, maka berarti
hanya variasi yang menguntungkan saja yang cenderung bertahan dalam kondisi
seleksi dan variasi yang tidak menguntungkan akan hancur. Pemikiran seperti ini membawa Darwin pada penerangan
akan apa yang tengah dia pikirkan. Diapun
menulis, “Akhirnya saya menemukan teori untuk mulai bekerja”.
Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, atau
juga karena gangguan kesehatan yang sering dialaminya, penulisan teori itu berlangsung
lambat. Selama empat tahun pertama, dia hanya
menulis sebuah ringkasan setebal 35 halaman (1822), menyusul dua tahun kemudian
sebuah esai setebal 230 halaman (1844).
Yang terakhir ini sempat dia tunjukkan kepada beberapa temannya, tapi
yang pertama nampaknya tidak.
Tapi dua karya itu bukan hasil akhirnya. Darwin
yang hati-hati itu masih tetap merasa bahwa teorinya harus dilengkapi dengan
bukti-bukti yang lebih banyak sebelum dipublikasikan. Sementara itu, dia juga sibuk dengan menelaah
koleksi-koleksi yang diperoleh dari perjalanan dengan Beagle. Baru setelah lebih dari 10 tahun, yakni tahun
1855, dia mengaku bahwa dia hendak mulai menulis teorinya.
Tapi kenyataan berbicara lain. Jauh di seberang lautan, di Kepulauan Indonesia
yang terpisah oleh jarak lebih dari setengah keliling bumi, kenalannya yang
bernama Alfred Wallace (1823-1913) ternyata sedang bergelut dengan pemikiran yang
sama. Wallace adalah seorang penyelidik
alam. Tapi tidak seperti Darwin yang dibiayai
orang tua waktu ikut dengan Beagle, Wallace justru membiayai perjalanannya dari hasil menjual
spesimen. Dia pernah ke Amazon (1848-1852)
tapi kemudian menghabiskan sisa waktunya di Indonesia
dimana dia menemukan garis khayal yang memisahkan antara binatang-binatang berciri
Indonesia barat dan yang
berciri Indonesia
timur. Garis ini kemudian dinamai
menurut namanya, ‘Garis Wallace’.
Jika Darwin merenungkan teori-teorinya di
atas kapal ilmiah, di lingkungan kampus, dan di rumahnya yang tenang di Kent,
Inggris, Wallace justru merenungkan itu di tempat-tempat yang terpencil, penuh
resiko, jauh dari suasana akademik, dan di sela-sela pekerjaan menangkap,
menguliti dan mengeringkan hasil buruan. Hanya sumber inspirasi mereka yang sama, yaitu
Principles of Geology karya Lyell dan
An Essay on the Principle of Population
karya Malthus. Wallace membawa buku yang
pertama dalam perjalanannya, sedangkan yang buku yang kedua konon hanya dia baca
di sebuah perpustakaan umum di Inggris.
Lalu inilah yang kemudian terjadi. Ketika sedang melewatkan hari-hari berhujan di
sebuah cottage kecil di kaki bukit
berhutan lebat, tidak jauh dari Kuching, Sarawak ,
ilham itu datang dan Wallace mulai menulis.
Kali ini agak berbeda karena yang dia tulis bersifat teoritis. Dia menguraikan sepuluh fakta yang sangat dikenal
dalam bidang geografi dan geologi, antara lain, bahwa lingkungan yang mirip
akan menghasilkan jenis yang mirip – tidak ada jenis atau kelompok jenis yang
muncul dua kali. Dia kini sampai pada
kesimpulan bahwa evolusi harus berlangsung di sepanjang waktu agar bisa dihasilkan
jenis-jenis yang berbeda.
Wallace memberi judul esainya itu On the Law which has Regulated the
Introduction of New Species dan mengirimnya ke sebuah majalah ilmiah yang kemudian
menerbitkannya dalam bulan September 1855.
Karena ditulis di Sarawak , esai itu juga
dikenal dengan nama “the Sarawak Law”.
Ketika membaca esai ini, Darwin
memberi komentar kepada Wallace lewat sebuah surat , “Saya bisa melihat bahwa kita memiliki
pikiran yang sama, dan dalam batas tertentu telah sampai pada kesimpulan yang
sama”. Selain itu, Darwin juga mengingatkan suatu hal, “Musim
panas ini merupakan tahun ke-20 sejak saya membuat catatan pertama tentang
bagaimana dan dengan cara apa jenis dan varietas bisa berbeda satu sama lain… Sekarang saya sedang menyiapkan publikasinya walaupun
saya tahu subyeknya sangat luas…” Disini
Darwin sebenarnya hendak mengatakan bahwa dia juga sedang menyiapkan teorinya.
Tapi Wallace tak tinggal diam. Sarawak Law masih menuntun dia pada pemikiran
berikutnya. Pikirnya, jenis-jenis
berubah menjadi jenis baru karena ‘suksesi alam’. Jika perubahan itu berlangsung terus, berarti
dunia akan penuh jenis. Tapi kenyataannya tidak karena
sebagaimana kata Principles of Geology,
jenis juga bisa punah dan menjadi fosil,.
Berarti di alam ada proses yang mengatur kepunahan jenis. Tapi bagaimana proses itu berlangsung?
Jawaban atas pertanyaan itu datang dalam
bulan Februari 1858 sewaktu Wallace di Maluku.
Waktu itu dia tengah terbaring oleh serangan malaria dan teringat akan
buku Malthus, Principles of Population,
yang dia baca sekitar 12 tahun lalu. Inspirasi
dari buku itu menuntun dia untuk menulis sebuah esai yang judulnya On the Tendency of Varieties to Depart
Indefinitely from the Original Type.
Karena dibuat di Ternate, esai ini kemudian dikenal dengan nama ‘Ternate
Paper’ (meskipun penelitian terakhir menunjukkan bahwa esai ini sebenarnya ditulis
di Dodinga, sebuah desa kecil di Halmahera ).
Sebelumnya, Darwin memang pernah mengaku kepada Lyell bahwa
dia sudah menyusun teorinya dalam bentuk buku setebal 11 bab.
Lyell menyadari adanya krisis. Atas nama ilmu pengetahuan, Darwin tak boleh dibiarkan, demikian Lyell. Lyell lalu menghubungi temannya Sir Joseph
Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew.
Berdua mereka lalu menyusun rencana.
Darwin akan dibujuk supaya mau memublikasikan
beberapa karya sebelumnya, dan Linnean Society akan mereka intervensi supaya jangan
hanya menerbitkan karya Wallace saja tapi juga karya Darwin
secara bersama-sama. Linnean Society adalah
sebuah perkumpulan ilmiah bergengsi di Inggris yang secara berkala mengadakan
pertemuan untuk membahas karya-karya ilmiah para peneliti.
Skenario dua petinggi ilmiah Inggris ini berhasil. Pada tanggal 1 Juli 1858, sebanyak 28 anggota
Linnean Society dan 2 orang undangan berkumpul untuk – salah satunya – mendengar
dan membahas karya Darwin-Wallace. Tapi
sayang, kedua penulis ini tak bisa hadir; Darwin
sedang menguburkan anaknya yang meninggal sementara Wallace yang kurang dikenal
sedang berada di Manokwari, Papua.
Untung semua bisa berjalan sesuai rencana. Darwin luput dari kasus ‘dipermalukan’ oleh Wallace
yang lebih muda dan hanya pengumpul spesimen, sementara proceeding pertemuan Linnean
Society juga memberi dia legitimasi yang kuat bahwa ‘teori evolusi berdasarkan seleksi
alam’ telah lahir secara bersamaan dari dia dan Wallace.
Sekarang, 150 tahun sudah berlalu. Tapi cerita di balik pertemuan Linnean
Society tanggal 1 Juli 1858 itu ternyata menyisakan bau yang tak sedap. Bagaimana tidak. Darwin
mengaku menerima Ternate Paper pada tanggal 18 Juni 1858, sementara paper itu
ditandatangani Wallace pada bulan Februari 1858. Artinya, paper itu butuh waktu empat bulan
untuk mencapai Inggris dari Ternate . Ini sedikit janggal. Dengan kondisi pos waktu itu, Ternate Paper seharusnya
sudah sampai di tangan Darwin
paling tidak seminggu sebelum tanggal 18 Juni.
Buktinya, sebuah surat lain yang juga dikirim
Wallace ke Leicester pada waktu yang bersamaan,
ternyata telah tiba di Leicester pada
tanggal 3 Juni. Mengapa
paper yang dikirim ke Darwin di Kent harus terlambat dua minggu?
Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan ini akan
tetap menjadi misteri karena surat
serta amplop yang menyertai Ternate Paper telah hilang. Parahnya, kehilangan ini nampaknya disengaja
pula. Darwin biasanya sangat rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen korespondensinya, anehnya, kini hanya dokumen itu saja yang hilang dari
arsipnya. Ada tuduhan, amplop itu
sengaja dihilangkan oleh seorang anaknya, mungkin atas perintah Darwin .
Jika semua itu benar, mengapa Darwin melakukannya?
Lyell dan Hooker, sebagamana dikemukakan di
atas, memang ikut memuluskan langkah Darwin
untuk memenangkan persaingan. Sebagaimana
disebutkan di atas, dalam surat yang menyertai
Ternate Paper, Wallace telah meminta Darwin
untuk memberikan paper itu ke Lyell untuk diterbitkan. Darwin
memang memenuhinya. Tapi itu dilakukan
dengan ancaman ke Lyell bahwa dia akan membakar buku yang sedang ditulisnya. Sebagai teman, Lyell langsung terpengaruh sekalipun
dia belum pernah melihat buku yang sedang ditulis Darwin itu. Lyell sadar seandainya Ternate Paper langsung
dipublikasikan, Darwin
pasti akan kalah. Jadi, bersama-sama dengan
Hooker, dia berusaha untuk menghalangi Wallace.
Cara yang sopan yaitu dengan memublikasikan Ternate Paper bersama-sama dengan
karya Darwin agar kesan yang timbul yaitu teori evolusi tak hanya ditemukan
oleh Wallace.
Tapi Darwin ternyata tak siap. Jadi yang kemudian dibacakan di pertemuan Linnean
Society bukan karya baru melainkan dua karya lama, masing-masing Ringkasan
dari Manuskrip Tentang Jenis yang Ditulis Tahun 1839 dan Disalin tahun 1844
dan Ringkasan dari Surat yang Dikirim ke Prof.
Asa Gray di Boston, Amerika, pada Bulan Oktober 1857.
Lantas dimana buku 11 bab yang hendak dia bakar
itu? Mengapa dia tak membuat saja
ringkasannya, bukankah itu yang lebih baru?
Ada dua
kemungkinan disini. Pertama, waktu Darwin sangat sempit. Dia tak sempat membuat ringkasan, dan dua karya daur ulang
itu (khususnya manuskrip tentang jenis) dia anggap cukup untuk mewakili
gagasannya. Kedua, buku 11 bab itu memang
tidak ada, belum ada, atau cuma ada dalam angan-angan Darwin saja.
Pertemuan Linnean Society sendiri juga diwarnai
oleh ketakberesan. Lyell dan Hooker baru
memberitahu rencana pembacaan paper Darwin-Wallace sehari sebelum pertemuan
berlangsung. Nada pemberitahuannya pun agak
mendesak, yaitu agar Sekretaris Perkumpulan menyelipkan agenda tambahan untuk pembacaan dua paper itu. Karena paper Darwin-Wallace baru diserahkan, isinya
pun baru diketahui oleh peserta ketika pertemuan berlangsung. Tak ada kesempatan untuk menelaahnya. Ini mempengaruhi jalannya diskusi. Banyak peserta bertanya-tanya, sementara sebagian
justru diam karena topiknya ‘terlalu baru’ untuk ukuran waktu itu.
Lebih parah lagi, ketika pertemuan
berlangsung, bukan karya Wallace yang dibacakan lebih dulu, tapi justru karya Darwin yang ‘daur ulang’ itu. Jelas, Lyell dan Hooker bertanggungjawab akan
hal ini.
Kita mungkin bertanya, mengapa Wallace begitu
bodoh sampai harus mengirimkan Ternate Paper ke Darwin ?
Mengapa misalnya dia tidak langsung saja mengirimnya ke pengelola jurnal
atau penerbit? Bukankah ini yang dia
lakukan dengan Sarawak Law? Jawabnya
adalah, Wallace hendak menunjukkan rasa hormatnya kepada Darwin yang senior. Dari tanggapan Darwin
terhadap Sarawak Law sebelumnya, Wallace tahu kalau Darwin tertarik dengan topik itu. Makanya, ketika Ternate Paper selesai, Wallace
merasa perlu untuk mengirim terlebih dahulu ke Darwin karena ini adalah pengembangan gagasan
dari Sarawak Law. Darwin pasti akan tertarik. Kita lihat disini, betapa lainnya sejarah
seandainya Wallace tidak mengirim Ternate Paper ke Darwin .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar