Rabu, 11 November 2015

Siapa Pencetus Teori Evolusi, Darwin atau Wallace?

PENGANTAR

Dalam bulan Februari 2005, saya mengikuti sebuah ekspedisi kecil ke Ternate dan Halmahera.  Salah satu tujuan dari ekspedisi itu adalah untuk melakukan investigasi terhadap “Ternate Paper”, sebuah karya ilmiah yang ditulis oleh Wallace sekitar 150 tahun lalu di sebuah tempat di Halmahera.  Paper ini sangat terkenal karena isinya berisi cikal bakal pemikiran tentang teori evolusi.  Paper ini juga terkenal karena Darwin sebagai bapak evolusi dituduh telah mencuri gagasan dari paper ini.

Seorang di antara peserta ekspedisi itu adalah David Hallmark, seorang pengacara Inggris yang sedang menyusun gugatan publik terhadap Darwin.  Selama perjalanan ke berbagai tempat di Halmahera itu, David telah berbaik hati memberi saya kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang persoalan ini.  Sementara, dari salah seorang rekannya, Paul Sochaczewski, yang memimpin perjalanan ekspedisi dan memiliki gagasan untuk mendirikan museum Wallace di Ternate, saya juga memperoleh bahan-bahan cetakan yang memperkaya pemahaman saya akan topik ini.  Artikel berikut ini saya susun berdasarkan hasil perbincangan dengan David serta dari bahan-bahan cetakan milik Paul yang dia ijinkan untuk saya fotokopi.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Media Sulut tanggal 3 dan 4 Maret 2009.  Disini saya hanya melakukan sedikit perbaikan bahasa saja.  Perlu juga saya tambahkan bahwa kira-kira seminggu sesudah artikel ini diterbitkan oleh Media Sulut, Mingguan Tempo (Jakarta) juga menerbitkan ulasan yang mirip.  Tapi karena saya sudah lebih dulu menerbitkan tulisan saya, saya tak merasa telah mendapat untung apalagi mencuri ide dari adanya ulasan Mingguan Tempo tersebut.  Tulisan ini adalah murni gagasan saya.

***

Posisi Darwin sebagai pencetus teori evolusi sedang goyah.  Bukti-bukti menunjukkan bahwa bukan cuma dia pencetusnyaMalah dia dituduh melakukan plagiarisme.  Beberapa gagasan dari teori yang dia tulis dalam On the Origin of Species konon diilhami dari ide orang lain.  Ironisnya, bukan cuma Darwin yang terlibat disini, tapi juga beberapa ilmuwan ternama, dan mereka adalah teman-teman baiknya.  Benarkah demikian?

Charles Robert Darwin (1809-1882) mengawali karir ilmiahnya ketika usianya masih sangat muda.  Dia baru 22 tahun ketika ikut dengan Beagle (1831), sebuah kapal penelitian yang waktu itu akan berlayar di wilayah Atlantik, Pasific, dan perairan Australia selama 4 tahun untuk eksplorasi ilmiah.  Tapi rasa ingin tahu yang besar telah mendorong Darwin muda ini melakukan penyelidikan terhadap berbagai fenomena alam yang ditemuinya, dan ini mengubah dia menjadi seorang ilmuwan yang disegani.

Fosil rupanya mendapat perhatian khusus Darwin karena selama perjalanan dia membawa buku Principles of Geology, karya Charles Lyell yang baru terbit.  Waktu itu, Lyell adalah ilmuwan terkemuka dan ‘teori-teori liar’ yang dikemukakan dalam buku itu membuat Darwin terpesona.  Menurut Lyell, benua, daratan dan pegunungan tidak dibentuk oleh air bah zaman Nuh, tapi oleh hujan, angin, gempa bumi serta kekuatan alam lainnya.  Lyell menjadi teman Darwin, dan selanjutnya menjadi orang yang amat berperan dalam karir ilmiah Darwin.

Sekembali dari perjalanan, di tengah-tengah kesibukan menyusun laporan serta meneliti spesimen-spesimen yang dikoleksinya, Darwin mulai mengembangkan pemikiran tentang evolusi, antara lain tentang dari mana kah asal jenis.  Dia juga menulis beberapa esai, di antaranya On Transmutation of Species (1837).  Dia meyakini beberapa hal yang waktu itu masih baru dan kontroversial, seperti keanekaragaman hayati tidak muncul karena sekali penciptaan, dan bahwa fosil adalah petunjuk bahwa jenis-jenis telah berganti dari waktu ke waktu.

Dalam bulan Oktober 1838, ketika tidak sengaja membaca karya Thomas Malthus An Essay on the Principle of Population (1803), Darwin merasa menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang tengah memusingkan dia.  Dalam buku itu Malthus menunjukkan bahwa seandainya tak ada perang, kelaparan dan penyakit, populasi manusia niscaya akan memenuhi dunia.  Jadi ada peran seleksi dalam hal ini.  Jika hal ini diterapkan di alam, maka berarti hanya variasi yang menguntungkan saja yang cenderung bertahan dalam kondisi seleksi dan variasi yang tidak menguntungkan akan hancur.  Pemikiran seperti ini membawa Darwin pada penerangan akan apa yang tengah dia pikirkan.  Diapun menulis, “Akhirnya saya menemukan teori untuk mulai bekerja”.

Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, atau juga karena gangguan kesehatan yang sering dialaminya, penulisan teori itu berlangsung lambat.  Selama empat tahun pertama, dia hanya menulis sebuah ringkasan setebal 35 halaman (1822), menyusul dua tahun kemudian sebuah esai setebal 230 halaman (1844).  Yang terakhir ini sempat dia tunjukkan kepada beberapa temannya, tapi yang pertama nampaknya tidak.

Tapi dua karya itu bukan hasil akhirnya.  Darwin yang hati-hati itu masih tetap merasa bahwa teorinya harus dilengkapi dengan bukti-bukti yang lebih banyak sebelum dipublikasikan.  Sementara itu, dia juga sibuk dengan menelaah koleksi-koleksi yang diperoleh dari perjalanan dengan Beagle.  Baru setelah lebih dari 10 tahun, yakni tahun 1855, dia mengaku bahwa dia hendak mulai menulis teorinya.

Tapi kenyataan berbicara lain.  Jauh di seberang lautan, di Kepulauan Indonesia yang terpisah oleh jarak lebih dari setengah keliling bumi, kenalannya yang bernama Alfred Wallace (1823-1913) ternyata sedang bergelut dengan pemikiran yang sama.  Wallace adalah seorang penyelidik alam.  Tapi tidak seperti Darwin yang dibiayai orang tua waktu ikut dengan Beagle, Wallace justru membiayai perjalanannya dari hasil menjual spesimen.  Dia pernah ke Amazon (1848-1852) tapi kemudian menghabiskan sisa waktunya di Indonesia dimana dia menemukan garis khayal yang memisahkan antara binatang-binatang berciri Indonesia barat dan yang berciri Indonesia timur.  Garis ini kemudian dinamai menurut namanya, ‘Garis Wallace’.

Jika Darwin merenungkan teori-teorinya di atas kapal ilmiah, di lingkungan kampus, dan di rumahnya yang tenang di Kent, Inggris, Wallace justru merenungkan itu di tempat-tempat yang terpencil, penuh resiko, jauh dari suasana akademik, dan di sela-sela pekerjaan menangkap, menguliti dan mengeringkan hasil buruan.  Hanya sumber inspirasi mereka yang sama, yaitu Principles of Geology karya Lyell dan An Essay on the Principle of Population karya Malthus.  Wallace membawa buku yang pertama dalam perjalanannya, sedangkan yang buku yang kedua konon hanya dia baca di sebuah perpustakaan umum di Inggris.

Lalu inilah yang kemudian terjadi.  Ketika sedang melewatkan hari-hari berhujan di sebuah cottage kecil di kaki bukit berhutan lebat, tidak jauh dari Kuching, Sarawak, ilham itu datang dan Wallace mulai menulis.  Kali ini agak berbeda karena yang dia tulis bersifat teoritis.  Dia menguraikan sepuluh fakta yang sangat dikenal dalam bidang geografi dan geologi, antara lain, bahwa lingkungan yang mirip akan menghasilkan jenis yang mirip – tidak ada jenis atau kelompok jenis yang muncul dua kali.  Dia kini sampai pada kesimpulan bahwa evolusi harus berlangsung di sepanjang waktu agar bisa dihasilkan jenis-jenis yang berbeda.

Wallace memberi judul esainya itu On the Law which has Regulated the Introduction of New Species dan mengirimnya ke sebuah majalah ilmiah yang kemudian menerbitkannya dalam bulan September 1855.  Karena ditulis di Sarawak, esai itu juga dikenal dengan nama “the Sarawak Law”.

Ketika membaca esai ini, Darwin memberi komentar kepada Wallace lewat sebuah surat, “Saya bisa melihat bahwa kita memiliki pikiran yang sama, dan dalam batas tertentu telah sampai pada kesimpulan yang sama”.  Selain itu, Darwin juga mengingatkan suatu hal, “Musim panas ini merupakan tahun ke-20 sejak saya membuat catatan pertama tentang bagaimana dan dengan cara apa jenis dan varietas bisa berbeda satu sama lain…  Sekarang saya sedang menyiapkan publikasinya walaupun saya tahu subyeknya sangat luas…”  Disini Darwin sebenarnya hendak mengatakan bahwa dia juga sedang menyiapkan teorinya.

Tapi Wallace tak tinggal diam.  Sarawak Law masih menuntun dia pada pemikiran berikutnya.  Pikirnya, jenis-jenis berubah menjadi jenis baru karena ‘suksesi alam’.  Jika perubahan itu berlangsung terus, berarti dunia akan penuh jenis.  Tapi kenyataannya tidak karena sebagaimana kata Principles of Geology, jenis juga bisa punah dan menjadi fosil,.  Berarti di alam ada proses yang mengatur kepunahan jenis.  Tapi bagaimana proses itu berlangsung?

Jawaban atas pertanyaan itu datang dalam bulan Februari 1858 sewaktu Wallace di Maluku.  Waktu itu dia tengah terbaring oleh serangan malaria dan teringat akan buku Malthus, Principles of Population, yang dia baca sekitar 12 tahun lalu.  Inspirasi dari buku itu menuntun dia untuk menulis sebuah esai yang judulnya On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type.  Karena dibuat di Ternate, esai ini kemudian dikenal dengan nama ‘Ternate Paper’ (meskipun penelitian terakhir menunjukkan bahwa esai ini sebenarnya ditulis di Dodinga, sebuah desa kecil di Halmahera).

Darwin menjadi orang pertama yang membaca esai itu karena Wallace mengirimnya ke dia.  Artikel tersebut juga disertai dengan sebuah surat yang meminta Darwin untuk meneruskan artikel tersebut ke Lyell seandainya layak untuk diterbitkan.  Betapa terkejutnya Darwin.  Apa yang digelutinya selama lebih dari 20 tahun, sekarang sudah diringkas oleh Wallace menjadi sebuah esai yang tebalnya hanya beberapa halaman.  Darwin langsung frustasi.  Kepada Lyell dia menulis dengan kecewa, “Tak pernah saya jumpai kebetulan yang begitu mengejutkan…..  Dengan begitu seluruh keaslian gagasan saya, apapun nilainya, akan terpukul…… Lebih baik saya bakar buku itu daripada dianggap berjiwa rendah oleh Wallace atau oleh siapa pun”.

Sebelumnya, Darwin memang pernah mengaku kepada Lyell bahwa dia sudah menyusun teorinya dalam bentuk buku setebal 11 bab.

Lyell menyadari adanya krisis.  Atas nama ilmu pengetahuan, Darwin tak boleh dibiarkan, demikian Lyell.  Lyell lalu menghubungi temannya Sir Joseph Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew.  Berdua mereka lalu menyusun rencana.  Darwin akan dibujuk supaya mau memublikasikan beberapa karya sebelumnya, dan Linnean Society akan mereka intervensi supaya jangan hanya menerbitkan karya Wallace saja tapi juga karya Darwin secara bersama-sama.  Linnean Society adalah sebuah perkumpulan ilmiah bergengsi di Inggris yang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas karya-karya ilmiah para peneliti.

Skenario dua petinggi ilmiah Inggris ini berhasil.  Pada tanggal 1 Juli 1858, sebanyak 28 anggota Linnean Society dan 2 orang undangan berkumpul untuk – salah satunya – mendengar dan membahas karya Darwin-Wallace.  Tapi sayang, kedua penulis ini tak bisa hadir; Darwin sedang menguburkan anaknya yang meninggal sementara Wallace yang kurang dikenal sedang berada di Manokwari, Papua.

Untung semua bisa berjalan sesuai rencana.  Darwin luput dari kasus ‘dipermalukan’ oleh Wallace yang lebih muda dan hanya pengumpul spesimen, sementara proceeding pertemuan Linnean Society juga memberi dia legitimasi yang kuat bahwa ‘teori evolusi berdasarkan seleksi alam’ telah lahir secara bersamaan dari dia dan Wallace.

Darwin pun tenang dan melanjutkan pekerjaannya.  Dia merampungkan edisi pertama dari On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for life, dan menerbitkannya pada tahun berikutnya.  Buku ini sangat terkenal, tapi kontroversi yang ditimbulkannya juga sangat hebat.  Badai kritik dan bahkan kutuk langsung berkecamuk begitu buku ini terbit.  Darwin dituduh telah menyangkal Tuhan.  Tapi meskipun begitu, dia memperoleh gelar ‘pencetus teori evolusi’.  Sementara itu, Wallace dilupakan orang.

Sekarang, 150 tahun sudah berlalu.  Tapi cerita di balik pertemuan Linnean Society tanggal 1 Juli 1858 itu ternyata menyisakan bau yang tak sedap.  Bagaimana tidak.  Darwin mengaku menerima Ternate Paper pada tanggal 18 Juni 1858, sementara paper itu ditandatangani Wallace pada bulan Februari 1858.  Artinya, paper itu butuh waktu empat bulan untuk mencapai Inggris dari Ternate.  Ini sedikit janggal.  Dengan kondisi pos waktu itu, Ternate Paper seharusnya sudah sampai di tangan Darwin paling tidak seminggu sebelum tanggal 18 Juni.  Buktinya, sebuah surat lain yang juga dikirim Wallace ke Leicester pada waktu yang bersamaan, ternyata telah tiba di Leicester pada tanggal 3 Juni.  Mengapa paper yang dikirim ke Darwin di Kent harus terlambat dua minggu?

Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan ini akan tetap menjadi misteri karena surat serta amplop yang menyertai Ternate Paper telah hilang.  Parahnya, kehilangan ini nampaknya disengaja pula.  Darwin biasanya sangat rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen korespondensinya, anehnya, kini hanya dokumen itu saja yang hilang dari arsipnya.  Ada tuduhan, amplop itu sengaja dihilangkan oleh seorang anaknya, mungkin atas perintah Darwin.  Jika semua itu benar, mengapa Darwin melakukannya?

Darwin telah menggumuli teori evolusi lebih dari 20 tahun.  Ada beberapa pertanyaan yang belum bisa dia jawab.  Tapi mendadak jawaban itu dia temukan dalam Ternate Paper.  Apakah Darwin mau mengakuinya?  Tidak.  Coba lihat.  Pada tanggal 8 Juni Darwin tiba-tiba menyurat ke Hooker dan mengatakan bahwa jawabannya sudah dia temukan.  Ini sepertinya hal yang biasa.  Tapi kalau kita berpatokan pada tanggal terima surat yang ke Leicester (3 Juni), maka surat ke Hooker itu dia buat sesudah kira-kira 4 atau 5 hari dia menerima Ternate Paper dari Wallace.  Jadi dia sudah membaca gagasan Wallace dan disitu dia menemukan jawabannya.  Tapi untuk menyembunyikan hal ini, dia mengarang cerita bahwa Ternate Paper dia terima pada tanggal 18 Juni.  Untuk menyempurnakannya, dia pun melenyapkan amplop yang mengandung bukti tanggal cap pos.

Lyell dan Hooker, sebagamana dikemukakan di atas, memang ikut memuluskan langkah Darwin untuk memenangkan persaingan.  Sebagaimana disebutkan di atas, dalam surat yang menyertai Ternate Paper, Wallace telah meminta Darwin untuk memberikan paper itu ke Lyell untuk diterbitkan.  Darwin memang memenuhinya.  Tapi itu dilakukan dengan ancaman ke Lyell bahwa dia akan membakar buku yang sedang ditulisnya.  Sebagai teman, Lyell langsung terpengaruh sekalipun dia belum pernah melihat buku yang sedang ditulis Darwin itu.  Lyell sadar seandainya Ternate Paper langsung dipublikasikan, Darwin pasti akan kalah.  Jadi, bersama-sama dengan Hooker, dia berusaha untuk menghalangi Wallace.  Cara yang sopan yaitu dengan memublikasikan Ternate Paper bersama-sama dengan karya Darwin agar kesan yang timbul yaitu teori evolusi tak hanya ditemukan oleh Wallace.

Tapi Darwin ternyata tak siap.  Jadi yang kemudian dibacakan di pertemuan Linnean Society bukan karya baru melainkan dua karya lama, masing-masing Ringkasan dari Manuskrip Tentang Jenis yang Ditulis Tahun 1839 dan Disalin tahun 1844 dan Ringkasan dari Surat yang Dikirim ke Prof. Asa Gray di Boston, Amerika, pada Bulan Oktober 1857.

Lantas dimana buku 11 bab yang hendak dia bakar itu?  Mengapa dia tak membuat saja ringkasannya, bukankah itu yang lebih baru?  Ada dua kemungkinan disini.  Pertama, waktu Darwin sangat sempit.  Dia tak sempat membuat ringkasan, dan dua karya daur ulang itu (khususnya manuskrip tentang jenis) dia anggap cukup untuk mewakili gagasannya.  Kedua, buku 11 bab itu memang tidak ada, belum ada, atau cuma ada dalam angan-angan Darwin saja.

Pertemuan Linnean Society sendiri juga diwarnai oleh ketakberesan.  Lyell dan Hooker baru memberitahu rencana pembacaan paper Darwin-Wallace sehari sebelum pertemuan berlangsung.  Nada pemberitahuannya pun agak mendesak, yaitu agar Sekretaris Perkumpulan menyelipkan agenda tambahan untuk pembacaan dua paper itu.  Karena paper Darwin-Wallace baru diserahkan, isinya pun baru diketahui oleh peserta ketika pertemuan berlangsung.  Tak ada kesempatan untuk menelaahnya.  Ini mempengaruhi jalannya diskusi.  Banyak peserta bertanya-tanya, sementara sebagian justru diam karena topiknya ‘terlalu baru’ untuk ukuran waktu itu.

Lebih parah lagi, ketika pertemuan berlangsung, bukan karya Wallace yang dibacakan lebih dulu, tapi justru karya Darwin yang ‘daur ulang’ itu.  Jelas, Lyell dan Hooker bertanggungjawab akan hal ini.


Kita mungkin bertanya, mengapa Wallace begitu bodoh sampai harus mengirimkan Ternate Paper ke Darwin?  Mengapa misalnya dia tidak langsung saja mengirimnya ke pengelola jurnal atau penerbit?  Bukankah ini yang dia lakukan dengan Sarawak Law?  Jawabnya adalah, Wallace hendak menunjukkan rasa hormatnya kepada Darwin yang senior.  Dari tanggapan Darwin terhadap Sarawak Law sebelumnya, Wallace tahu kalau Darwin tertarik dengan topik itu.  Makanya, ketika Ternate Paper selesai, Wallace merasa perlu untuk mengirim terlebih dahulu ke Darwin karena ini adalah pengembangan gagasan dari Sarawak Law.  Darwin pasti akan tertarik.  Kita lihat disini, betapa lainnya sejarah seandainya Wallace tidak mengirim Ternate Paper ke Darwin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar