Jumat, 13 November 2015

Sebuah renungan tentang silsilah

Istilah silsilah selalu menimbulkan kesan sesuatu yang membuka ke bawah dari sebuah pangkal.  Sebagai contoh, pangkal itu misalnya Eliezer Dimpudus.  Dari Eliezer muncul beberapa cabang yaitu Paul, Rhein, dan Melchior, dst.  Selanjutnya, dari masing-masing cabang ini, muncul lagi cabang-cabang berikutnya.  Begitu seterusnya, sampai kepada kita-kita.  Saya misalnya adalah cabang tingkat ketiga.  Ibu saya tingkat dua.  Anak saya, tingkat empat.  Jadi, silsilah menggambarkan sesuatu yang mirip percabangan akar pohon; membuka ke bawah.

Tapi di antara kita jarang ada yang membayangkan sebaliknya, bahwa saya diturunkan dari sepasang orang tua yaitu ibu dan bapa.  Ibu saya juga diturunkan dari sepasang oma-opa, dan bapak saya diturunkan dari sepasang oma-opa yang lain.  Jadi pada level ini, kita sebenarnya memiliki empat leluhurdua oma dan dua opa.  Selanjutnya, masing-masing oma dan opa ini juga diturunkan dari pasangan-pasangan kakek/nenek buyut.  Begitu seterusnya ke atas, dan disini silsilah menggambarkan hal yang sebaliknya yaitu membuka ke atas, mirip cabang-cabang pohon.

Dalam konteks membuka ke atas, maka Eliezer Dimpudus berarti hanya salah satu dari sekian banyak leluhur yang menurunkan saya.  Secara matematis jumlah leluhur yang terlibat dalam menurunkan saya di setiap level generasi dapat dihitung dengan rumus‘dua pangkat’.  Di level pertama (ibu-bapak), ada ‘dua pangkat satu’ leluhur, yaitu dua leluhur.  Di level atas kedua (oma-opa), ada ‘duapangkat dua’, yaitu empat leluhur.  Di level atas ketiga (kakek/nenek buyut), ada ‘dua pangkat tiga’ atau delapan leluhur.

Silsilah membuka ke atas memiliki beberapa sisi menarik.  Salah satunya yaitu kepastiannya bahwa setiap individu pada level manapun, pasti memiliki sepasang orang tua.  Jadi rumus ‘dua pangkat’ disini adalah sebuah kepastian.  Dengan begitu maka kita dapat memastikan bahwa pada level di atas Eliezer Dimpudus (empat generasi di atas saya), jumlah leluhur saya ada ‘dua pangkat delapan’ atau 16 orang; pada generasi ke-sepuluh di atas saya ada 1024 leluhur; pada generasi ke-20 di atas ada 1.048.576 leluhur; dan pada generasi ke-25 di atas saya ada lebih dari 30 juta orang leluhur.

Tapi kita tidak bisa menghitung terus ke atas seperti itu, karena itu pada level tertentu, jumlah penduduk pada waktu itu akan membatasinya.  Sebagai contoh, pada generasi ke-60 di atas saya, jumlah leluhur saya sudah berjumlah lebih dari satu trilyun orang.  Padahal, kalau satu generasi rentang waktunya sepertiga abad, maka 60 generasi berarti 2000 tahun lalu.  Pada waktu itu, populasi manusia diperkirakan baru berjumlah 200 juta orang.  Jadi, faktor pembatas perhitungan membuka ke atas adalah jumlah populasi manusia yang perkembangannya membuka ke bawah.  Ada suatu masa dimana perhitungan jumlah leluhur akan sama dengan jumlah populasi manusia.  Pada masa itu, menariknya, seluruh umat manusia yang ada di bumi adalah leluhur kita.


Sekarang kita kembali ke 2000 tahun lalu atau 60 generasi di atas kita.  Karena populasi manusia waktu itu cuma 200 juta orang, sementara leluhur kita menurut perhitungan sudah ribuan kali lipat dari jumlah ini, maka peluang kita untuk mengklaim setiap manusia yang hidup waktu itu, sangatlah besar, bahkan merupakan kepastianDengan pemikiran itu, masing-masing kita dapat saja mengklaim bahwa salah satu murid Yesus adalah leluhur kita (selama murid itu dipastikan telah kawin).  Sayangnya, ini berarti kita bisa mengklaim bahwa Herodes atau Yudas Iskariot adalah leluhur kita (selama keduanya bisa dipastikan telah kawin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar