Istilah silsilah selalu menimbulkan kesan
sesuatu yang membuka ke bawah dari sebuah pangkal. Sebagai contoh, pangkal itu misalnya Eliezer
Dimpudus. Dari Eliezer muncul beberapa
cabang yaitu Paul, Rhein, dan Melchior, dst.
Selanjutnya,
dari masing-masing cabang ini, muncul lagi cabang-cabang berikutnya.
Begitu seterusnya, sampai kepada kita-kita. Saya misalnya adalah cabang tingkat ketiga. Ibu saya tingkat dua. Anak
saya, tingkat empat. Jadi, silsilah menggambarkan sesuatu yang mirip
percabangan akar pohon; membuka ke bawah.
Tapi di
antara kita jarang ada yang membayangkan sebaliknya, bahwa saya diturunkan dari
sepasang orang tua yaitu ibu dan bapa. Ibu
saya juga diturunkan dari sepasang oma-opa, dan bapak saya diturunkan dari sepasang
oma-opa yang lain. Jadi pada level ini, kita sebenarnya memiliki empat leluhur—dua oma dan dua opa. Selanjutnya, masing-masing oma dan opa ini juga diturunkan dari
pasangan-pasangan kakek/nenek buyut. Begitu
seterusnya ke atas, dan disini silsilah menggambarkan hal yang sebaliknya yaitu
membuka ke atas, mirip cabang-cabang pohon.
Dalam konteks membuka ke atas, maka Eliezer
Dimpudus berarti hanya salah satu dari sekian banyak leluhur yang menurunkan
saya.
Secara matematis jumlah leluhur yang terlibat dalam menurunkan saya di
setiap level generasi dapat dihitung dengan rumus‘dua pangkat’. Di level pertama (ibu-bapak), ada ‘dua
pangkat satu’ leluhur, yaitu dua leluhur.
Di level atas kedua (oma-opa), ada ‘duapangkat dua’, yaitu empat leluhur. Di level atas ketiga (kakek/nenek buyut), ada ‘dua pangkat tiga’ atau
delapan leluhur.
Silsilah
membuka ke atas memiliki beberapa sisi menarik.
Salah satunya yaitu kepastiannya bahwa setiap individu pada level
manapun, pasti memiliki sepasang orang tua.
Jadi rumus ‘dua pangkat’ disini adalah sebuah kepastian. Dengan begitu maka kita dapat memastikan
bahwa pada level di atas Eliezer Dimpudus (empat generasi di atas saya), jumlah
leluhur saya ada ‘dua pangkat delapan’ atau 16 orang; pada generasi ke-sepuluh di
atas saya ada 1024 leluhur; pada generasi ke-20 di atas ada
1.048.576 leluhur; dan pada generasi ke-25 di atas
saya ada lebih dari 30 juta orang leluhur.
Tapi kita
tidak bisa menghitung terus ke atas seperti itu, karena itu pada level
tertentu, jumlah penduduk pada waktu
itu akan
membatasinya. Sebagai contoh, pada generasi ke-60 di atas saya, jumlah
leluhur saya sudah berjumlah lebih dari satu trilyun orang. Padahal, kalau satu
generasi rentang waktunya sepertiga abad, maka 60 generasi berarti 2000 tahun
lalu. Pada waktu
itu, populasi manusia diperkirakan baru berjumlah 200 juta orang. Jadi, faktor pembatas perhitungan
membuka ke atas adalah jumlah populasi manusia yang perkembangannya membuka ke
bawah. Ada suatu masa dimana perhitungan jumlah leluhur akan sama dengan jumlah populasi manusia. Pada masa itu, menariknya, seluruh umat manusia yang ada di bumi adalah leluhur kita.
Sekarang
kita kembali ke 2000 tahun lalu atau 60 generasi di atas kita. Karena populasi manusia waktu itu cuma 200
juta orang, sementara leluhur kita
menurut perhitungan sudah ribuan kali lipat dari jumlah ini, maka peluang kita untuk mengklaim setiap manusia yang hidup waktu
itu, sangatlah besar, bahkan merupakan kepastian.
Dengan pemikiran itu, masing-masing kita dapat saja mengklaim bahwa salah satu murid Yesus adalah leluhur kita (selama murid itu dipastikan telah kawin). Sayangnya, ini berarti kita bisa mengklaim bahwa Herodes atau Yudas Iskariot adalah leluhur kita
(selama keduanya bisa dipastikan telah kawin).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar