Tahun 1830, perang Diponegoro meletus di Pulau Jawa. Perang itu berlarut-larut dan akhirnya menyusahkan Belanda (karena anggaran yang tersedot) hingga akhirnya sebagai bagian dari upaya mengakhirinya, Belanda mengerahkan laskar tulungan, yaitu pasukan yang personil-personilnya direkrut dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Daerah-daerah yang terlibat dalam hal ini yaitu Bali, Maluku Tengah, Ternate, Tidore, Makasar dan Madura, Gorontalo, dan tentu saja Minahasa.
Waktu itu, pemerintahan di Minahasa terbagi atas beberapa walak dimana dua di antaranya dipimpin oleh orang-orang yang berdarah Tonsea dan keduanya masih ada ikatan famili—Tonsea dipimpin oleh Lukas Pelengkahu, Sonder dipimpin oleh Herman Willem Dotulong. Salah satu silsilah keluarga mereka menunjukkan bahwa mereka adalah turunan dari Xaverius Dotulong, pemimpin Kema yang terkenal itu. Lukas di level cece, Herman di level cicit.
Ternyata, dalam soal kontribusi terhadap penyediaan laskar tulungan, mereka berdualah yang paling besar. Dari 1400 pemuda Minahasa yang diterjunkan ke kancah perang Jawa itu, hampir setengahnya berasal dari wilayah mereka—377 dari Sonder, 250 dari Tonsea (bandingkan dengan Gorontalo yang cuma memasok 150 pemuda).Dotulong sendiri, juga ikut berangkat ke Jawa (awal 1829), sebagai pemimpin pasukan dengan pangkat Mayoor. Untuk mendapatkan makna dari angka-angka di atas ini, perlu disadari bahwa penduduk Minahasa waktu perekrutan itu terjadi adalah sekitar ....orang. Bisa dibayangkan, suasana di kampung-kampung Tonsea setelah keberangkatan pemuda-pemudanya.
Di pulau Jawa,kita tak tahu banyak apa yang terjadi dengan laskar ini. Tapi sebuah publikasi dari tahun 1909 mengatakan bahwa mereka tidak banyak beraksi karena selain waktunya pendek, kebanyakan dari mereka juga tak dibekali senjata apapun. Sementara Dotulong sendiri, juga dikabarkan sudah minta pulang setelah hanya beberapa bulan tiba di Jawa.
Tapi kontras dengan fakta itu, mitos-mitos tentang mereka justru mengatakan mereka telah memamerkan aksi-aksi heroik dalam perang. Dotulong katanya berangkat dengan menumpang sehelai daun woka. Di Jawa dia mengobati banyak orangdengan cara-cara yang ajaib. Lebih dari pada itu dia bahkan diklaim telah menangkap Pengeran Diponegoro.
Terlepas mitos-mitos tersebut, disini menarik karena peristiwa-peristiwa di seputar Perang Jawa itu terjadi dalam rentang silsilah Dimpudus (yang ada di saya). Perang itu terjadi antara 1825 s/d 1830, keberangkatan laskar tulungan terjadi di awal 1829, mereka kembali bulan Juni 1830. Jika kita sandingkan dengan silsilah Dimpudus, peristiwa-peristiwa ini terletak kira-kira tiga perempat dari bagian atasnya; perkiraan kami, pada masa Sumampouw (orang tua dari Manuel dan Israel Dimpudus, kakek dari Eliezer Dimpudus).
Mengapa kami menduga seperti itu? Alasannya Eliezer Dimpudus lahir tahun 1868, yaitu 38 tahun setelah Perang Jawa berakhir. Karena Eliezer anak paling bungsu dari lima bersaudara, maka Manuel sebagai orang tuanya mungkin telah kawin 6 atau 7 tahun sebelum kelahiran Eliezer. Jadi sekitar awal 1860-an atau sekitar 30 tahun setelah Perang Jawa. Dengan begitu, maka yang paling masuk akal untuk dianggap yang telah menyaksikan peristiwa-peristiwa di seputar Perang Jawa adalah orang tua Manuel, yaitu Sumampouw, di samping, tentu orang tua dan kakak-kakaknya (mengenai waktu disini, bandingkan dengan perkiraan saya mengenai Manuel dan Israel dalam tulisan saya yang satunya lagi).
Pertanyaannya sekarang, apa yang terjadi pada mereka di tengah-tengah suasana terkait Perang Jawa itu? Ini adalah pertanyaan yang menarik karena suasana itu menimbulkan dampak buruk bagi (kebanyakan)penduduk Tonsea. Untuk memenuhi permintaan akan calon laskar, kepala-kepala walak dibebankan untuk melakukan perekrutan. Tapi ini membuat Pelengkahu dan Dotulong justru terlibat persaingan dan malah menggunakan kekuasaan sebagai alat. Keluarga-keluarga yang berhutang, menunggak pajak atau sedang berperkara mereka ‘paksa’ untuk menyerahkan anggotanya (pemuda), sambil Pelengkahu juga disebut-sebut telah memperkaya diri dengan anggaran perekrutan yang disediakan pemerintah. Katanya uang jasa yang seharusnya diberikan kepada pemuda-pemuda rekrutan, tidak diserahkan. Jadi ketika para pemuda ini sudah berkumpul di Manado (mungkin untuk latihan), kebutuhan hidup mereka menjadi tanggungan desa dan keluaga (ada informasi, beberapa keluarga terpaksa harus melego barang-barang emasnya). Sumampouw tentu berada dalam situasi yang digambarkan di atas.
Tapi mengapa situasi seperti itu bisa terjadi? Latar belakangnya ada di situasi politik kolonial parohan awal abad 19. Waktu itu sebuah framework baru Pemerintah Belanda menyangkut apa yang harus diperoleh dari rakyat jajahan, baru saja diterapkan. Untuk mendukung kebijakan itu, kedudukan para pemimpin lokal harus diperkukuh agar mereka nantinya bisa menjadi ‘perantara’ yang baik antara Pemerintah di satu pihak dan rakyat di pihak lain. Bagi Minahasa momen ini ditandai dengan kunjungan ‘yang penuh kenangan’ oleh Gubernur Jenderal van der Capellen pada tahun 1824. Kalau boleh saya katakan, kunjungan itu menandai dibukanya ruang bagi sistem pengkelas-kelasan yang belum pernah ada sebelumnya di Minahasa; para kepala-kepala walak atau pemimpin di level yang lebih di bawah mendapat gelar-gelar kepangkatan sistem Belanda, seperti mayoor, dsb.
Perubahan ini ternyata segera diikuti dengan perubahan lain yang berbau tak sedap (tapi sebagian tentu dengan restu Pemerintah). Walak-walak dengan segera menjadi mirip monarki. Para pemimpinnya menjadi raja-raja kecil yang menjalankan kekuasaan kebanyakan dengan cara-cara tirani. Masing-masing mereka kemudian berusaha mempertahankan kedudukannya, dan itu dilakukan dengan menjilat Pemerintah. Sebagai bagian dari strategi mempertahankan kedudukan itu, mereka juga mulai memetamorfosis diri menjadi bangsawan dan membuat jarak dengan rakyat yang dipimpinnya. Mereka membentuk kelas sosial sendiri, membangun jaringan di antara mereka melalui kawin-mawin, dan buruknya lagi, membagi atau mewariskan jabatan pemimpin walak kepada sanak famili dan keturunannya. Dari sini lah lahir keluarga-keluarga elite Minahasa yang beberapa di antaranya masih bertahan hingga sekarang.
Lukas Pelengkahu dan Herman Willem Dotulong termasuk di dalamnya. Ketika tuan Belanda-nya meminta setoran berupa pemuda-pemuda untuk Perang Jawa, mereka langsung terlibat persaingan sengit untuk mencari muka. Sebagaimana disinggung di atas, akibatnya adalah munculnya cara yang menyusahkan rakyat. Di Tonsea memang tidak ada catatan mengenai reaksi rakyat (meski Pelengkahu nampaknya sempat dipengadilankan oleh Belanda akibat ulahnya terkait perekrutan milisi). Tapi di Sonder, reaksi yang muncul justru terbuka. Sebagian rakyat Sonder dan Kiawa melarikan diri ke wilayah-wilayah yang di luar jangkauan kekuasaan Dotulong , dan kampung-kampung seperti Munte dan Paku Ure berdiri oleh mereka-mereka yang melarikan diri.
Lalu apa yang terjadi pada leluhur kita Sumampouw? Apakah dia menjadi salah satu ‘pemuda’ yang dipilih Pelengkahu untuk berperang di Jawa? Apa alasan pemilihan itu; apakah dia punya utang, menunggak pajak, atau sedang bermasalah dengan Pelengkahu? Apakah ada alasan lain? Atau apakah dia hanya kebetulan terpilih dan harus menerima nasib? Apapun jawabannya, jika memang benar Sumampouw terpilih, kita tentu dapat membayangkan bagaimana beban yang harus ditanggung keluarga-keluarga Dimpudus yang ada di Kema atau Tonsea Lama. Mereka harus bolak-balik Manado untuk menjamin kehidupan Sumampouw, dan informasi mengatakan hal seperti ini memang terjadi di wilayah Tonsea. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka di bawah kondisi alat angkut waktu itu, yang cuma berupa roda sapi (perbandingan, di awal abad 20 saja Opa Paulang tinggal di keluarga Kandouw di Manado, harus pulang jalan kaki ke Kapataran kalau liburan sekolah (waktu itu ayahnya Eliezer sedang menjadi guru di Kapataran).
Hal yang sebaliknya, jika Sumampoiw tidak terpilih dan dia tetap di Tonsea, apa alasannya? Apakah fisiknya kurang baik? Apakah dia punya alasan kuat sehingga Pelengkahu mengabaikannya, misalnya karena dia punya anak-anak yang tidak bisa ditinggal (dalam hal ini kakak-kakak dari Manuel dan Israel), apakah salah seorang saudaranya telah menggantikan dia (Sumampouw memiliki empat saudara namun saya tidak tahu ada berapa yang laki-laki dan berapa yang cukup umur untuk jadi laskar).
Tentu kita juga harus mempertimbangkan alasan-alasan yang lain yang lebih positif, misalnya karena Sumampouw sendiri yang ingin bertualang ke Jawa sehingga dia dengan sukarela mendaftar jadi tentara. Ini tentu bukan tak ada di antara 1400 calon laskar Minahasa waktu itu. Sayangnya, terhadap semua pertanyaan seperti ini, saya terpaksa hanya bisa menduga-duga. Masa-masa di seputar Sumampouw telah sangat kabur, dan tak ada satupun lagi yang kita ketahui sekarang. Tua-tua Dimpudus di generasi atas kita sekarang sedang berkurang jumlahnya padahal merekalah yang secara waktu lebih dekat dengan Sumampouw serta lebih mungkin mengetahui cerita-cerita tentang Perang Jawa. Dokumen-dokumen tertulis juga tak ada.
Padahal Sumampouw, berdasarkan silsilah Dimpudus yang tersedia di kami, melahirkan anak-anak yang menggunakan fam Dimpudus. Salah satunya yaitu anak sulungnya yang bernama Israel. Anak ini -- jika benar I. Dimpudus dalam ‘Staat der scholen in de Minahasa’ adalah dia -- sudah menjabat onderwijzer di Tonsea Lpada tahun 1868, yakni 38 tahun setelah Perang Jawa usai. Lalu bagaimana kita bisa menemukan hubungan antara fakta jabatan ini dengan perang Jawa di masa Sumampouw ayah Israel?
Dulu, saya pernah mendengar seseorang (Kuntua Frei Tonsea Lama?) bercerita tentang Perang Jawa—dalam sebuah acara kumpulan atau pesta (?). Tapi waktu itu saya masih kecil, belum punya minat, dan dengan begitu nyaris tak ada yang saya ingat dari ceritanya. Sekarang suasana sudah berubah. Kita mungkin sudah jarang menemukan pesta-pesta yang digelar di halaman rumah dengan meja los beralaskan daun pisang dan sabua berdindingkan warundak. Sekarang mungkin sudah semakin jarang suasana dimana setelah selesai pesta ada orang tua mulai bercerita tentang silsilah, tentang perang Aceh, tentang perang Jawa, dsb. Jaman yang berubah telah menghilangkan kesempatan mereka untuk mewariskan cerita-cerita seperti itu. Kita sekarang seperti sedang berpacu dengan waktu jika hendak mendokumentasikan kisah-kisah mereka. Apa yang saya lakukan dengan tulisan ini adalah mencoba menggantikan para tua-tua Tonsea itu bercerita tentang Perang Jawa. Tapi jujur, saya telah gagal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar