Rabu, 11 November 2015

Menyoal asal-usul Mongolia orang Minahasa

Suatu hari ketika sedang mendampingi bos ke lapangan, mobil yang kami tumpangi bertemu dengan kemacetan di pusat kota Tomohon.  Waktu itu jam usai sekolah dan jalan-jalan dipadati oleh anak sekolah.  Dalam keadaan mobil sedang melambat karena mereka menyita sebagian jalan atau menyeberang seenaknya, tiba-tiba bos menyelutuk, ‘Benar juga kata orang, orang Minahasa itu putih-putih seperti orang China’.

Saya tersenyum, membiarkan bos dengan pendapatnya.  Tapi sopir yang menyetir di samping bos, yang sejak awal memang suka ikut nimbrung bila ada yang ditanyakan bos mengenai sesuatu yang dia lihat dijalan, tiba-tiba memberi tangggapan, ‘Iya Pak.  Orang Minahasa kan keturunan Mongol’.  Karena bos terlihat penasaran dengan kata-kata itu, si sopir melanjutkan tanggapannya dengan cerita yang meyakinkan.

Saya cuma diam.  Tapi dalam hati saya prihatin.  Sopir ini adalah sopir yang biasa mangkal di Bandara Sam Ratulangi, menjual jasa antaran bagi tamu-tamu yang turun dari pesawat.  Profesi seperti ini, menempatkan dia pada jajaran orang pertama Sulawesi Utara yang akan dijumpai tamu dari luar bila berkunjung ke daerah ini.  Jika cerita seperti ini dia ceritakan pada setiap tamu yang menumpang di mobilnya, bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan percaya bahwa orang Minahasa keturunan orang Mongol.  Tapi rupanya orang memang harus percaya.  Belakangan ketika saya cek di internet, apa yang dia ceritakan itu ternyata bertebaran di banyak situs.   Salah satunya bahkan di Wikipedia tempat orang biasanya mencari refrensi.

Di tengah-tengah minimnya buku sejarah Minahasa yang standar, ini adalah gejala yang tak menggembirakan menurut saya.  Siapa bilang orang Minahasa keturunan Mongol?  Tapi karena beredar di internet dan internet sekarang makin mudah, cerita ini justru yang akan paling gampang dibaca orang, diingat, diunduh, bahkan dijadikan refrensi oleh anak-anak sekolah yang sedang mencari bahan untuk tugas paper-nya.

Lalu apa sebenarnya cerita yang memprihatinkan itu?  Berikut ini adalah garis besarnya.  Saya ambil dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Toar_dan_Lumimuut (tanggal 20 Oktober 2015, jam 17.55).  Leluhur orang Minahasa namanya Toar Lahope.  Dia adalah seorang panglima Genghis Khan yang memimpin penaklukan atas ‘seluruh benua Eurasia’.  Dia memiliki seorang kekasih yang cantik, yaitu seorang pelayan istana yang bernama Lumimuut.  Tapi anak Genghis Khan yang bernama Ogedei juga jatuh cinta pada Lumimuut, dan ini membuat Ogedei berencana membunuh Toar Lahope melalui sepasukan pembunuh.  Toar Lahope pun berusaha melarikan diri bersama Lumimuut, tapi mereka kepergok ketika hendak berlayar.  Jadi Toar Lahope beserta anak buahnya harus bertempur melawan pasukan pembunuh itu.  Sementara Lumimuut, berhasil berlayar ke suatu tempat yang sudah disepakati sebelumnya dengan Toar Lahope.

Setelah pertempuran, Toar Lahope bersembunyi di wilayah Xia selama dua tahun.  Sesudah itu dia menyusul Lumimuut.  Tanpa diuraikan bagaimana perjalanannya, kapalnya dikatakan mendarat di Lihaga, sebuah pulau kecil di lepas pantai Likupang, Minahasa Utara.  Setelah sempat berpindah ke Talise dan Bangka (dua pulau yang terletak di dekat Lihaga) untuk mencari Lumimuut, informasi dari orang-orang di pulau Bangka menuntun Lahope ke Likupang di daratan Minahasa.  Disitu dia bertemu Lumimuut beserta rombongannya; Lumimuut sudah tinggal bersama pemimpin (atau yang dituakan di) Likupang, seorang wanita tua yang bernama Karema.  Oleh wanita tua ini, Toar Lahope dan Lumimuut dinikahkan pada tahun 1218.

Tapi setelah tiga tahun kemudian, pasukan Ogedei ternyata berhasil menyusul ke Likupang.  Ini membuat Toar Lahope memindahkan rombongannya ke daerah pedalaman, yaitu ke Kanonang.  Disini dia katanya meninggal dunia dalam usia 86 tahun pada tahun 1269.

Sebagai sebuah kisah petualangan, cerita ini menurut saya luar biasa.  Kalau dinovelkan, dia bisa disetarakan dengan karya Jules Verne ‘’Keliling Dunia Dalam 80 Hari’.  Namun demikian, kalau cerita ini dibuat untuk menjelaskan sejarah asal-usul orang Minahasa, ini jelas pemutarbalikan fakta.  Pertama karena logikanya yang amburadul; kedua karena perlakuannya yang buruk terhadap mitologi asal-usul Minahasa; ketiga karena siapapun yang bisa mengakses internet, bisa menganggap cerita ini fakta dan menjadikannya refrensi.

Genghis Khan memulai imperium Mongol-nya pada tahun 1206.  Dia diidentikkan dengan kebrutalan karena kisah-kisah pembentukan imperiumnya diwarnai dengan penghancuran total dan darah.  Tapi dia juga bisa diidentikkan dengan pedalaman.  Dia lahir di sebuah desa yang terletak lebih dari 1000 km dari pantai yang paling dekat.  Suku-suku pengembara yang membantunya juga berasal dari pedalaman, imperiumnya terbentang di pedalaman benua Asia (walaupun ketika meninggal, cakupannya sudah sampai ke pantai-pantai Tiongkok Utara, Korea dan Siberia Timur).  Jadi semua daerah yang terletak di seberang lautan, apalagi Kepulauan Indonesia yang puluhan ribu kilometer di sebelah tenggara, pasti tidak dia kenal.

Toar Lahope adalah seorang panglima Genghis, bahkan cerita di atas memberi kesan dia satu-satunya panglima.  Dia juga dikatakan terlibat dalam penaklukan atas seluruh benua Eurasia.  Tapi saya sendiri tidak menemukan nama ini dalam sumber-sumber yang saya periksa.  Malah menurut saya nama ini terasa asing kalau disandingkan dengan beberapa nama Mongol yang ada dalam sumber-sumber itu.  Jadi kecuali saya yang tidak berhasil menemukan, dan ini ada kemungkinan, tokoh ini menurut saya meragukan.  Saya juga harus mengatakan bahwa pernyataan Genghis Khan menaklukkan seluruh Benua Eurasia adalah keliru.  Eropa Barat di luar kekuasaan dia.

Sebagai panglima utama, saya yakin Toar Lahope sama seperti Genghis.  Dia berasal dari suku-suku pedalaman, khususnya daerah timur-laut Tiongkok.  Suku-suku yang membantunya pertama kali juga begitu.  Dengan begitu Toar Lahope bisa dipastikan bukan pelaut, dan pasti tidak tahu apa-apa dengan daerah-daerah yang terletak di seberang laut dari daratan Tiongkok.  Untuk Indonesia, pengetahuan seperti ini hanya ada di kalangan penduduk pesisir tenggara, khususnya di daerah Fujian dimana sejumlah kota pelabuhan terdapat dan mungkin telah berkembang dari sejak Dinasti Tang (618-907).

Tapi pengetahuan itu berkembang perlahan-lahan.  Pedagang-pedagang dari dinasti sebelum Genghis, yaitu Song (960-1279), baru menjangkau bagian barat Indonesia.  Bagian timur Indonesia masih belum, tapi Laut Sulawesi mungkin sudah dikunjungi secara sporadik.  Bagian timur Indonesia baru menunjukkan tanda-tanda sudah dicapai pada waktu Kubilai Khan berkuasa (1260-1294).  Tapi ini setelah Genghis meninggal (1227).  Pada waktu itu beberapa nama tempat di bagian timur Indonesia muncul dalam laporan mereka, di antaranya yaitu Banda dan Banggai.  Salah satu dari laporan pertama itu terbit tahun 1304, tujuh puluh tujuh tahun setelah Genghis meninggal (lihat mis. Ptak, 2000:26-29).

Karena dalam cerita di atas Toar Lahope sudah muncul di Likupang sebelum tahun 1218, dan ini 86 tahun sebelum laporan pertama tentang tempat-tempat di bagian timur Indonesia muncul dalam laporan Dinasti Yuan (Mongol), ini merupakan hal yang luar biasa.  Toar Lahope memang bisa menyewa penunjuk jalan di daerah Fujian—disini pasti terdapat orang-orang yang sudah pernah berlayar ke Indonesia.  Tapi untuk mencapai daerah ini dia harus melintasi wilayah sepanjang ribuan kilometer yang bukan taklukan Mongol.  Sementara di pelabuhan juga belum tentu ada orang Tionghoa yang mau sekapal dengan sekelompok suku nomaden yang terkenal brutal ini.  Jadi alternatifnya dia harus harus ke pesisir utara Tiongkok.  Disini relatif lebih aman meski jarak ke Indonesia lebih jauh.  Tapi disini, kemungkinan besar juga dia tidak akan menjumpai orang yang pernah mendengar Indonesia.  Jadi bagaimana Lahope maupun Lumimuut meninggalkan Tiongkok, bagi saya masih merupakan persoalan.

Pada sisi yang lain, dia juga harus memecahkan masalah iklim, setidaknya untuk calon isterinya yang masih muda itu.  Dari jantung Benua Asia ke sebuah tempat di bagian utara Minahasa, orang-orang Mongol yang terbiasa dengan padang gurun dan stepa yang kering ini—terik di siang hari tapi membeku di malam hari—harus bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis yang hangat dan lembab di bagian utara Minahasa.  Sementara di antara dua wilayah ini, juga terdapat beberapa laut yang terkenal dengan topan ganasnya.  Di masa eksplorasi laut bangsa-bangsa Eropa, sekitar 200 tahun kemudian, tak terhitung kapal yang tenggelam di perairan Laut China Selatan, Filipina dan barat daya Indonesia.  Makanya, saya kira tidak berlebihan jika membayangkan bahwa termasuk dalam persiapan perjalanan itu, Lahope telah menyewa seorang tabib Tionghoa untuk memastikan Lumimuut tidak selesma dan mabuk laut dalam perjalanan.

Ternyata Ogudei bisa menyusul Lahope ke Likupang, dan ini tidak pernah dicatat dalam sejarah Mongol bahwa seorang Ogudei pernah berlayar ke Asia Tenggara.  Ini adalah sebuah kecelakaan sejarah, tapi ini justru yang membuat Toar Lahope memutuskan untuk pindah ke Kanonang dan.  Karena Kanonang terletak di daerah pedalaman, dia dan rombongannya tentu harus long march.  Disini Lahope rupanya lupa membawa kuda-kuda Mongol yang terkenal itu karena yang tercatat dalam sejarah memasukkan kuda pertama kali ke Minahasa adalah orang Spanyol.

Rute terbaik untuk mencapai Kanonang dari Likupang adalah yang melewati lereng barat gunung Klabat.  Tapi disini persoalan berikut bisa muncul.  Rute ini bisa membawa Toar Lahope ke Desa Tatelu sekarang.  Seandainya ini terjadi dan dia tak sengaja lewat di sebuah waruga yang terletak dekat pemukiman yang sekarang, Lumimuut kemungkinan besar akan syok dan pingsan.  Waruga itu adalah kubur dari seorang keturunannya yang meninggal 16 abad sebelum dia kawin.  Persoalan yang sama juga akan terjadi seandainya dalam perjalanan selanjutnya dia kesasar lagi dan lewat Desa Woloan sekarang.  Di desa ini juga terdapat beberapa kubur keturunan mereka yang meninggal sekitar satu milenium sebelum mereka kawin.  Jadi Lahope memang harus hati-hati benar dalam memilih rute.

Terlepas dari persoalan-persoalan di atas, Toar Lahope sebenarnya orang tua yang patut berbahagia.  Dia meninggal dalam usia yang lanjut yaitu 86 tahun, dan setelah 410 tahun meninggal Gubernur Robertus Padtbrugge yang datang ke Manado (1679) mencatat bahwa keturunannya sudah membentuk sekitar 20 kelompok yang tersebar di seantero Minahasa.  Gubernur Maluku ini datang dengan maksud membuat kontrak 16 Januari 1679 yang terkenal itu.  Tapi sayang, apa yang dicatat oleh sang gubernur ini rupanya menjadi persoalan besar bagi eksistensi Lahope.  Kelompok-kelompok keturunannya yang dicatat itu ternyata telah menuturkan delapan bahasa yang berbeda.  Ini bakal dipersoalkan ahli-ahli bahasa.  Sebuah bahasa menurut mereka, baru akan pecah menjadi bahasa-bahasa dengan perbedaan di antara mereka kira-kira 50%, setelah sekurangnya 1500 tahun (prosentase menunjukkan perbedaan kata-kata kerabat di antara bahasa-bahasa turunan).  Tapi Lahope melakukannya hanya dalam 410 tahun (Molsbergen, 1928:55; Keraf, 1996:125).

Persoalan berikut lebih parah lagi.  Lahope dan Lumimuut pasti menggunakan bahasa Mongolic (kalau tidak, apa nanti kata Genghis Khan).  Sementara sebelas kelompok keturunannya menggunakan bahasa-bahasa Austronesia.  Ini adalah dua kelompok bahasa yang perbedaannya seperti langit dan bumi (sudah setingkat famili atau rumpun).  Pertanyaannya, bagaimana itu bisa terjadi dalam waktu 410 tahun?  Jawaban satu-satunya yang masuk akal, Karema telah memberi kursus bahasa pada mereka.  Karema orang asli Likupang, dia pasti menguasai bahasa-bahasa Minahasa.  Cuma memang ini akan membuat wanita tua ini sibuk kalau tidak kelelahan.  Dia harus membagi pendatang-pendatang Mongol itu ke dalam delapan kelompok, sesudah itu dia harus mengajar mereka bahasa-bahasa yang berbeda.  Selebihnya dia mungkin harus mengeluarkan larangan keras agar tidak menggunakan bahasa Mongol kalau sudah di Minahasa.  Sayang tak diceritakan bahasa apa yang dipakai ketika mereka pertama bertemu di Likupang.

Dengan semua persoalan di atas, saya kira cerita mengenai Toar Lahope dan orang Minahasa keturunan Mongol adalah sebuah kebohongan.  Bukan cuma itu, cerita itu juga berbahaya.  Mengapa?  Karena sekalipun hanya iseng, atau hanya diperuntukkan buat penggemar fiksi, pemajangan cerita ini di internet akan membuat mesin-mesin pencari menemukannya di bawah entri nama Toar, Lumimuut, dan Minahasa.  Ini adalah sebuah bully bagi identitas Minahasa.

Cerita tentang Toar dan Lumimuut bagi saya seharusnya tidak boleh diapa-apakan.  Cerita ini bukan cerita biasa.  Cerita ini adalah sebuah cerita mitologi, dimana salah satu cirinya adalah adanya unsur-unsur gaib yang menyertai kemunculan manusia pertama, dan ini dipercaya oleh pemilik cerita sebagai kebenaran.  Cerita ini adalah bagian dari kepercayaan asli Minahasa.  Sebagaimana cerita Adam dan Hawa dalam kitab-kitab suci agama Kristen dan Islam, cerita ini mengandung pesan, ajaran dan nilai-nilai yang harus dipahami dalam konteks religi asli Minahasa.

Tapi dalam cerita di atas, semua yang menyangkut kepercayaan tentang asal-usul dibongkar habis, dan kesuciannya sebagai sebuah unsur religi dikotori.  Toar dijadikan panglima Mongol dengan fam Lahope yang dikejar-kejar oleh Ogudei padahal dia adalah lambang kekuatan, dsb.  Lumimuut dijadikan pelayan istana padahal dia adalah dewi yang melambangkan bumi, kesuburan, dsb.  Karema diturunkan pangkat menjadi kepala kampung Likupang padahal dia adalah imam pertama, pencipta dunia, dsb (lihat mis. Graafland, 1987:87).  Jalan ceritanya apalagi.  Proses kehamilan Lumimuut yang melambangkan penyatuan kekuatan langit dan bumi dihilangkan, sementara perjalanan ‘keliling dunia’ yang mungkin mengandung makna kosmologi (maaf kala saya salah) juga dihilangkan.  Lalu apa maksudnya?

Sekali lagi, jika pengubahan itu dimaksud untuk memecahkan persoalan asal-usul penduduk Minahasa, maksud itu jelas gagal.  Pengarangnya jelas tidak mampu memanfaatkan publikasi-publikasi yang lebih mutahir.  Sebaliknya dia memanfaatkan spekulasi-spekulasi lama yang mencurigai adanya hubungan Minahasa dan Asia Timur—bahwa orang Minahasa berbeda karena memiliki warna kulit yang lebih terang, orang Minahasa berbeda karena memiliki lipatan mongolia (mongoolsche plooi atau epikantik), orang Minahasa membangun waruga yang bentuknya tiada berbeda djaoeh dengan bangoennja roemah berhala orang Mongolie serta Urn (tempat aboe dari mait jang dibakar) dari bangsa Beloedhistan (Panawuot, n.d:7).

Padahal semua kecurigaan seperti itu sudah kadaluwarsa, karena warna kulit yang lebih terang tidak hanya ada pada orang Minahasa (banyak suku di Indonesia juga punya).  Epikantik juga bukan cuma ciri orang Minahasa dan Asia Timur melainkan ada di beberapa bagian India, Afrika, dan Amerika.  Sementara kemiripan waruga dengan bentuk rumah berhala orang Mongolie juga tidak bisa langsung dijadikan argumen untuk memastikan ada hubungan langsung antara Minahasa dan Mongolia.  Karena kemiripan waruga dengan benda-benda arkeologis lain di luar Minahasa lebih dikarenakan proses-proses yang menyertai penyebaran budaya megalitik, dan ini jika kita korek lebih justru akan semakin menjauhkan Minahasa dari Mongolia.

Tapi mau apa lagi.  Dalam berbagai cara, mengaitkan asal-usul lokal dengan tokoh atau bangsa-bangsa luar rupanya gejala yang cukup umum.  Di Banten, silsilah raja-rajanya bermula dari Nabi Muhamad, bahkan dalam salah satu versi, bermula dari Nabi Adam (Djajadiningrat, 1983:17, 117).  Di Sangihe, pendiri Kerajaan Tampunganglawo, yaitu Gumansalangi, adalah putra dari seorang penguasa di bagian selatan Filipina yang beristerikan permaisuri asal Kesultanan Ternate (Walandungo, 2001:5-10).  Di beberapa bagian Indonesia, asal-usul penguasa yang dikaitkan dengan penguasa Makedonia, Alexander Agung, dengan tokoh-tokoh Mahabharata, dengan nabi-nabi dalam Al Quran maupun Alkitab, dsb. (Chambert-Loir, 2004)  Menariknya, yang terakhir ini juga ada di Minahasa.  Pendeta J.A.T. Schwarz dalam Tontemboansce Texten (Schwarz, 1907:394) merekam sebuah versi Toar-Lumimuut yang mengatakan bahwa Lumimuut adalah anak perempuan dari Adam dan Eva (lihat juga Graafland, 1987:85-7).

Sebagaimana cerita tentang Toar Lahope, cerita-cerita di atas tentu bukan cerita yang orsinil.   Versi aslinya pasti ada, tapi versi itu telah hilang atau tak bisa dilacak lagi, dan versi seperti di atas telah menggantikannya.  Mengapa bisa begitu?  Jawabnya adalah karena sejumlah faktor eksternal telah berperan, dan itu adalah ajaran Islam untuk silsilah Banten, ajaran Kristen untuk cerita Toar-Lumimuut versi Schwarz, dan mungkin superioritas Filipina Selatan dan Ternate untuk cerita Gumansalangi.

Lantas bagaimana mungkin keaslian sebuah mitologi bisa diutak-atik padahal itu adalah unsur dari sebuah religi asli?  Jawabnya sederhana, mitologi bisa dipreteli manakala religi asli yang menjadi pondasinya telah digeser oleh nilai-nilai yang lebih baru, yang datang dari agama, ilmu pengetahuan, modernisasi, maupun faktor eksternal lain.  Untuk Minahasa, cerita Toar Lahope adalah contoh yang paling baik.  Ketika religi asli Minahasa habis tergilas oleh agama, ilmu pengetahuan dan modernisasi, mitologi Toar dan Lumimuut kehilangan tempat berpijak.  Apalah artinya mempertahankan keasliannya, ketika itu terlihat usang dari kacamata kekinian kita sekarang.  Toar, Lumimuut, Karema harus diberi pakaian baru kalau hendak memajangnya di internet.


Jika mitologi bisa mengalami hal seperti itu, bahasa jangan ditanya lagi.  Bahasa Tombulu, Tontemboan, Tonsea, dst. harus secepatnya disingkirkan dari tanah Minahasa.  Karena akan sangat memalukan kalau sampai anak-anak kita menggunakannya sewaktu jalan-jalan di Mall.  Kampungan!  Jadi saat ini mungkin sudah datang era dimana kita memang harus mengucapkan selamat tinggal kepada Toar yang lahir dari benih angin barat, dan menyambut datangnya Toar Lahope yang lahir di Mongolia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar