Tahun-tahun pertama bekerja untuk Pegunungan Arfak, saya benar-benar terobsesi dengan masa lalunya. Blok pegunungan di sisi timur laut kepala burung Papua ini, adalah bagian dari pedalaman pulau Papua pertama yang ditembus oleh orang luar. Selama kurang lebih empat atau lima puluh ribu tahun sebelumnya, pulau kedua terbesar di dunia ini sepertinya hanya diciptakan untuk orang Papua saja. Orang luar seperti tak diberi kesempatan untuk melongok ke bagian pedalamannya yang misterius. Bahkan orang-orang dari ras Mongolid Selatan pun—yang haus lahan dan mampu menduduki semua pulau di bagian Indonesia yang lain—hanya bisa ‘menyisip’ di sepanjang pesisir utaranya sewaktu menyebar menuju Pasifik dari Halmahera sekitar tiga atau empat ribu tahun lalu, dengan meninggalkan sedikit jejak bahasa dan genetis. Papua adalah bumi yang kelam, kejam dan menakutkan bagi bangsa-bangsa di sebelah baratnya selama beberapa puluh abad.
Tapi pada tahun 1870, semuanya berubah. Maria Luigi d’Albertis, seorang naturalis dan petualang asal Italia berhasil memasuki pedalamannya kemudian mengumpulkan sejumlah spesimen hewan dan tumbuhan yang beberapa di antaranya belum pernah dilihat oleh orang luar. Daerah yang dimasuki oleh d’Albertis itu adalah Pegunungan Arfak, sebuah blok pegunungan di sisi timur laut Kepala Burung, tempat saya bekerja, dan D’Albertis memulai perjalanan bersejarahnya dari sebuah desa dekat pantai bernama Andai, beberapa kilometer di sebelah selatan Manokwari. Desa ini cukup akrab dengan saya.
Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Vink (Botanical Exploration of the Arfak Mountains, 1965), saya mengetahui bahwa rute yang dilalui d’Albertis belum pernah saya lewati. Selama ini, perjalanan ke Pegunungan Arfak dilakukan melalui rute Warmare-Mokwam-Minyambou, dengan mengikuti Sungai Prafi. Untuk ukuran saya, waktu tempuhnya kira-kira satu setengah hari jalan kaki ditambah bermalam. Jika tidak menggunakan rute darat, saya bisa menggunakan rute udara dengan menumpang pesawat Cessna milik Mission Aliance Fellowship (MAF). Dengan pesawat 8 seat (termasuk pilot) ini, Minyambou dapat dicapai dalam waktu kira-kira 25 menit. Ini adalah desa terbesar di Pegunungan Arfak setelah Mokwam dan mungkin Demaisi. Disini terdapat lapangan terbang rumput yang dibangun Misi, sebuah Pos Misi dengan keluarga misionarisnya, dan sebuah Pos lapangan WWF.
Rute yang digunakan oleh d’Albertis terletak agak di selatan rute Warmare. Bermula dari Andai dan berakhir di Ciraubri (kalau tidak salah), rute ini memang lebih pendek. Tapi tingkat kesulitan, jangan ditanya. Sebagaimana hampir semua pesisir timur Pegunungan Arfak, disini Pegunungan Arfak seperti langsung menyembul ke langit dari garis pantai.
Untuk mendapat lebih banyak keterangan, saya mengirim surat ke Vink, seorang ahli botani di Leiden, penulis sejarah eksplorasi botani Pegunungan Arfak. Ternyata surat saya dia balas dengan sebuah peta dimana rute d’Albertis sudah dia tandai dengan pindil. Saya juga menyurati seorang botanis kenalan saya di Belanda, William, yang pernah bersama-sama dalam Ekspedisi Linaeus tahun 1991, meminta difotokopikannya buku d’Albertisi untuk saya, ‘New Guinea: What Idid and what I saw’ (1880). Tapi sayang, hasilnya kurang menggembirakan. Dia hanya mengirimi saya kopi lembar cover serta beberapa halaman prefacenya, dan melalui secarik surat berkata, ‘…maaf Herman, pihak perpustakaan tidak mengijinkan saya memfotokopi buku itu seluruhnya karena kondisinya tidak memungkinkan lagi...’
Jadi saya beralih ke peta Vink. Lewat beberapa sobat Arfak saya, saya bisa tahu bahwa rute yang dipakai d’Albertis adalah rute tua, yang biasa dipakai oleh orang-orang tua mereka dulu untuk ke Minukwar (nama lama kota Manokwari). Sekarang, setelah rute Warmare mengggantikannya, rute itu tidak terawat lagi. Tapi menurut mereka, di salah satu titiknya ada pondok milik salah seorang sobat kami, dan itu bisa dipakai untuk istirahat. Saya memutuskan, suatu waktu saya harus mencoba rute ini. Saya ini merasa jadi D’Albertis.
Sayangnya selama lebih dari setahun berikut berbagai hal telah membuat saya tidak bisa mewujudkan impian itu. Saya tetap menggunakan rute normal Warmare-Mokwam-Minyambou, atau kadang-kadang terbang dengan menumpang pesawat MAF. Keadaan ini berlangsung sampai suatu ketika tanpa disangka-sangka datang kabar dari Jakarta bahwa Riza Marlon akan memotret di Pegunungan Arfak. Riza atau yang akrab dipanggil ‘Cacah’ adalah seorang fotografer satwa liar kawakan. Dia sudah memotret berbagai jenis satwa liar di hampir semua kawasan konservasi di Indonesia. Namanya sudah saya dengar sejak saya mengikuti Ekspedisi Trekforce (Taman Nasional Manusela, Seram, Maluku, 1990), tapi perkenalan dengannya baru terjadi setelah kami ketemu di Cagar Alam Tangkoko beberaapa waktu sesudah itu. Dia akan ke Arfak untuk memootret burung cenderawasih, dan kabar rencana kunjungan itu saya sambut dengan menyusun rencana untuk menjajal rute d’Albertis.
Cacah tidak tahu soal ini. Dalam perencanaannya dia memang tidak bicara rute. Bagi dia yang lebih penting objek foto. Arfak adalah salah satu cagar alam di Kepala Burung Papua yang memiliki beberapa jenis cenderawasih pegunungan yang langka. Kelebihan ini antara lain yang membuat kawasan seluas 68.325 hektar ini (Kepmenhut No. 783/Kpts-II/1992, 11 Agustus 1992) di ketingggian antara 1500 smpai 2500 meter dpl ini dipilih oleh produsen film dokumenter BBC London menjadi salah satu tempat shooting film ‘Attenborough in paradise’. Jadi Arfak adalah kawasan yang punya nilai fotografi, dan ini yang penting bagi Cacah.
Kebetulan, saya sempat terlibat dalam persiapan pembuatan film BBC tersebut. Konsultan biologinya, David Gibb telah memanfaatkan posisi saya di WWF untuk menjadi penghubung dengan beberapa ‘pemilik’ burung cenderawasih. Mereka harus mengidentifikasi, memantau dan melaporkan lokasi-lokasi display dari beberapa jenis burung cenderawasih beserta semua perubahan yang terjadi pada burung dan display-nya sebelum para kameramen BBC datang. Ceritanya, di seluruh Papua rupanya umum bahwa burung-burung cenderawasih ada pemiliknya. Di Pegunungan Arfak, setiap jengkal tanah ada pemiliknya dan kepemilikan itu juga mencakup burung-burung cenderawasih yang bersarang di atasnya. Kebetulan, burung cenderawasih kalau hendak kawin, jantannya akan membangun tempat menari (display ground) di lantai hutan, dan ini yang menjadi dasar klaim kepemilikan. Orang luar yang hendak memotret atau membuat film harus membayar.
Tugas dari David Gibbs itu membuat saya berkenalan dengan seluk beluk hubungan antara manusia dan burung di Pegunungan Arfak, dan itu sekarang menjadi bagian penting dari misi perburuan Cacah. Makanya dalam diskusi-diskusi dengan dia, yang dibahas justru soal ini, bukan rute.
Sayangnya, dalam soal rute saya agak teledor. Pertama, saya tidak memperhitungkan dengan cermat kondisi rute Andai. Saya hanya mengandalkan informasi dari sobat-sobat Arfak saya, yang jelas-jelas mengabaikan persoalan fisik kalau hendak jalan-jalan di ‘pegunungan rumah mereka’. Kedua, dan ini yang celakanya, pada malam sebelum keberangkatan, saya bukannya tidur untuk menjaga kondisi tapi saya justru begadang sampai pagi dengan beberapa teman kantor yang tidak ikut. Jadinya bicara soal mewujudkan mimpi menjadi seorang d’Albertis, saya sesungguhnya tidak siap.
Hari itu, pagi-pagi sekali kami sudah didrop oleh mobil kantor ke Desa Andai. Saya membayangkan, kira-kira 120 tahun yang lalu Luigi d’Albertis juga melakukan hal yang sama. Tapi selain dia tidak menggunakan mobil, disini juga ada perbedaaan bagai gunung dan langit. D’Albertis pasti sangat siap dengan fisiknya (dalam kisah perjalanannya dia sama sekali tidak mempersoalkan medan), sementara saya justru sangat tidak siap. Baru beberapa menit berjalan, saya mulai merasakan segala akibat buruk dari begadang semalam suntuk. Saya merasa pening, kepala nyut-nyut dan saya merasa limbung seperti tak bertulang. Sementara di depan saya jalan terus-menerus menanjak, beberapa harus ditebas karena tertutup liana berkayu.
Saya memang merencanakan rute akan ditempuh dalam dua hari. Artinya kami harus beristirahat di suatu tempat yang menurut informasi adalah sebuah sebuah pondok terpencil milik seseorang bermarga Ulo.Tapi faktanya, fisik saya yang drop membuat saya tak bisa mengendalikan perjalanan. Saya terus-terusan tertinggal dengan hanya ditemani oleh satu porter, dan kemudian kehilangan kontak dengan anggota rombongan yang lain. Saya tidak tahu dimana posisi orang paling depan, dan saya juga tak melihat Cacah sejak kira-kira satu jam setelah start. Jadi saya tidak yakin apakah instruksi sebelumnya bahwa kami akan bermalam di Pondok Ulo akan ditepati. Para porter dari pedalaman ini biasanya lebih suka ngebut untuk bisa tiba di lokasi tujuan apalagi jika mereka melihat tamunya mampu secara fisik. Cacah memiliki fisik yang jauh lebih baik dari saya. Dia pengalaman menjelajah berbagai medan hutan di Indonesia. Jadi dia pasti bisa mengimbangi kecepatan para porter, namun tentu tidak bisa menahan mereka untuk bermalam di Pondok Ulo. Dia buta dengan Arfak.
Dalam keraguan itu, saya tetap berharap mereka patuh pada rencana untuk bertemu di Pondok Ulo. Tapi ternyata yang saya khawatirkan terjadi. Hari sudah gelap ketika saya tiba di pondok itu. Pondok itu sunyi sesunyi rimba raya di sekelilingnya. Hanya Pak Tua Ulo dan seorang anaknya yang ada disitu. Dalam keadaan seperti mabuk alkohol, sempoyongan dan mata berkunang-kunang, saya hanya sempat bertanya kapan rombongan Cacah lewat. Sesudah itu saya roboh di depan pondok. Antara sadar dan tidak saya menyaksikan bagaimana sibuknya Pak Tua Ulo yang kebingungan mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan unggun di dekat saya. Dengan baju basah kuyup dan tubuh lemah, saya memang beresiko tersengat dingin udara malam Pegunungan Arfak. Untungnya, beberapa jam sesudah itu penunjuk jalan yang mendampingi saya membangunkan saya dan dengan begitu saya bisa pindah ke dalam pondok. Disitu saya tidur seperti orang mati.
Paginya saya terbangun dengan sekujur tubuh terasa sakit. Pundak saya lecet oleh gesekan ransel. Tangan perih oleh goresan duri serta irisan daun-daun tajam. Sementara otot-otot kaki terasa seperti diiris-iris. Karena semalam tidak makan, saya kelaparan. Penunjuk jalan langsung memasakkan saya mie instan dan saya menghabiskannya bersama beberapa potong keladi ang disiapkan Pak Tua Ulo. Tapi karena khawatir dengan Cacah, selesai makan kami langsung pamit. Pak tua Ulo sebenarnya lebih ingin saya berangkat siang, tapi dia tidak bisa menahan saya. Mungkin karena prihatin dengan keadaan saya, dia ‘menghadiahkan’ saya sebuah tongkat kayu yang dia buat dengan tergesa-gesa.
Menit-menit pertama meninggalkan Pondok Ulo memang sangat menyiksa. Kaki saya sulit digerakkan, dan jika digerakkan sakitnya minta ampun. Padahal medan yang harus dilalui tak banyak bedanya dengan kemarin. Menggunakan tongkat Pak Tua Ulo, saya berjalan dengan tertatih-tatih. Ini membuat gerak maju kami lambat sekali. Beruntung kali ini saya merasa fisik saya sudah lebih baik dari kemarin. Ini mungkin karena semalam saya sempat menikmati tidur yang cukup panjang. Jadi hari sudah menjelang petang ketika saya tiba di Pos WWF Menyambou.
Di halaman Pos WWF, Cacah sudah menunggu. Tanpa babibu, dia langsung ‘menyemprot’ saya. Rupanya para porter atau penunjuk jalan sudah bercerita kepadanya bahwa ada rute lain yang lebih baik. Dia mempersalahkan saya karena memilih rute yang ini. Menurutnya itu sangat beresiko bagi pekerjaannya. Waktu yang tersedia tidak banyak. Sekarang waktu itu akan terpotong untuk istirahat pemulihan fisik, karena dia juga kelelahan, belum lagi kalau dia cedera. Misi bisa gagal total, dan seterusnya, dan seterusnya. Pokoknya semua gara-gara saya. Ketika saya tanya dia kapan tiba di pos, dia jawab jam sebelas malam. Saya terkejut. Pantas dia ngomel terus.
Besoknya, setelah menikmati istirahat yang cukup di Pos Menyambou, barulah saya mulai menjalankan tugas. Sebagaimana sudah dikemukakan di atas, di pegunungan Arfak, setiap tempat menari burung cenderawasih liar (display ground) ada pemiliknya. Tugas saya pagi ini adalah bertemu dengan beberapa penduduk pemilik cenderawasih dan merundingkan soal pembayaran. Mereka, secara etnis adalah orang-orang Hatam. Cenderawasih adalah burung yang mengagumkan. Mungkin bermula dari nenek moyang yang mirip gagak, evolusi yang mereka jalani telah menghasilkan individu jantan dengan perilaku kawin yang sangat unik. Setiap jantan akan memikat betina dengan cara mengembangkan bulu-bulu hiasnya dan melakukan gerakan-gerakan yang mungkin secara keliru telah didefinisikan sebagai menari. Beberapa jenis melakukan itu di dahan-dahan pohon yang tidak terlalu besar, yang lain melakukannya di lantai hutan yang sudah ‘ditata’. Jadi orang Hatam yang berunding dengan saya pagi pagi itu adalah mereka-mereka yang menjamin bahwa burung itu ada karena sudah diikuti lebih dari seminggu.
Singkat kata, negosiasi berjalan lancar. Ada beberapa ‘display ground’ cenderawasih yang bisa dipastikan. Dan sebagaimana biasanya, harga burung disini sudah termasuk harga pondok persembunyian atau ‘blind’. Pondok itu—yang sangat penting bagi orang yang bekerja dengan kamera seperti Cacah—biasanya dibangun dari batang-batang kayu yang ditutupi dengan daun-daun palem. Mengenai hal ini saya tak perlu ragu. Pengalaman saya orang Hatam adalah ahlinya. Mereka dapat membuat blind yang letaknya sangat dekat dengan burung sehingga orang yang di dalam blind bisa menangkap burung yang tengah diintip kalau mau.
Obyek utama kami adalah Parotia Arfak, sejenis cenderawasih hitam yang hanya terdapat di gunung-gunung daerah Kepala Burung Papua serta daerah Wandamen (di ‘dasar’ Teluk Cenderawasih). Mengikuti semua instruksi dari ‘pemiliknya’, maka pada pagi berikutnya kami melakukan sebuah pendakian kecil ke arah lokasi sang burung. Kami tiba disitu tak sampai satu jam berjalan. Di situ, di tengah belantara khas pegunungan, sebuah pemandangan kecil langsung menarik perhatian. Sebuah blind dibangun di bawah beberapa jalinan sulur liana yang seukuran lengan, rancangannya sempurna. Hanya manusia yang akan curiga itu bukan tumpukan daun yang terbentuk secara alami. Di depannya ada sepetak kecil tanah seukuran kira-kira satu meter bujur sangkar yang ‘sangat bersih’ sehingga permukaan tanahnya terlihat. Bentuknya agak membundar. Mula-mula saya kira pemilik lahan yang membersihkan (karena memang saya belum pernah melihatnya). Tapi ternyata bukan. Yang membersihkan itu adalah burung yang kami cari. Jadi itu adalah display ground dari Parotia Arfak (Parotia sefilata), burung yang oleh orang Hatam disebut Miyet.
Khawatir jangan sampai burungnya keburu datang, saya dan Cacah langsung masuk ke dalam blind. Sementara pemilik lahan, dia langsung pergi meninggalkan kami. Ukuran blind yang tak sampai dua kubik isi itu, membuat saya dan Cacah nyaris tak bisa bergerak di dalamnya. Kami berdua, beberapa kamera, beberapa lensa panjang, dan beberapa lampu kilat serta tripod harus berbagi ruang.
Tak berlama-lama Cacah langsung bersiap. Dia membuat beberapa celah di dinding blind yang menghadap display ground, lalu memasukkan moncong kamera sambil mencari-cari posisi bidik yang tepat. Dia juga membuat lobang untuk lampu kilat, menyiapkan kamera cadangan, beberapa lensa yang berbeda ukuran, dan memasang tripod. Bersentuh-sentuh badan dengan dia, saya tak mau ketinggalan. Saya mengorek-ngorek sebuah celah di antara jalinan daun palem untuk menghasilkan sebuah lobang intip yang nyaman. Ini semua kami lakukan dengan nyaris tanpa suara.
Setelah semua siap, kami duduk membisu. Ini ternyata menjadi menit-menit yang paling menyiksa. Nyamuk sangat banyak, selain itu juga ada beberapa lalat besar yang gigitan dapat menimbulkan luka, dan keduanya silih berganti mengganggu kami. Sementara kami tidak bisa banyak bertindak karena takut menimbulkan suara yang dapat membuat burung yang kami tunggu lari.
Cukup lama juga kami menunggu dalam keadaan seperti itu,sebelum akhirnya tiba-tiba terdengar sebuah suara kaak..kaak mirip kakatua. Suara itu datang dari arah depan atas yang tidak terjangkau oleh pandangan dari lobang-lobang intip kami. Saya tidak punya pengalaman dengan Cenderawasih, Cacah juga begitu. Di kantor Manokwari terdapat beberapa kaset berisi rekaman suara burung, di ransel saya ada buku panduan burung-burung Papua (Beehler, et al). Tapi semua menjadi tak berguna karena obyek yang kami hadapi benar-benar asing. Kami mencoba mengintip, tapi sang sumber suara tak terlihat. Hanya karena suara itu semakin sering dan semakin dekat—beberapa disertai dengan bunyi kepakan yang berpindah tempat—maka kami yakin kalau itu adalah burung yang kami tunggu.
Perkiraan kami benar. Menyusul bunyi kepak sayap yang terdengar melintas dekat sekali, kami kini bisa melihat seekor burung tiba-tiba muncul di sebuah sulur dekat display ground. Ketegangan langsung melanda kami, masing-masing berusaha melihat dari lobang intip. Burung yang terlihat itu panjangnya kira-kira 30 cm. Tubuhnya membulat, ekornya agak pendek, warnanya nyaris hitam pekat kecuali di bagian dada berkas metalik mengkilat. Sepintas lalu, itu burung yang tidak terlalu menarik. Tapi ada yang unik disini. Burung itu mempunyai bulu-bulu raket di belakang kepanya. Jumlahnya enam, bentuknya mirip raket badminton atau korek kuping dari bulu ayam, cuma tangkainya agak halus dan kepanjangan. Bulu itu tumbuh dari bagian belakang kepala ke arah bawah sampai ke dekat pangkal ekor, tapi nanti teramati kalau kebetulan burungnya bergerak atau menggoyangkan tubuh. Benar, itu adalah Parotia sefilata.
Tapi selama beberapa waktu burung itu hanya terbang pendek-pendek, berpindah-pindah tempat, masuk ke display ground sesaat, kemudian terbang lagi, bersuara, diam, begitu seterusnya sampai suatu saat dia mulai terlihat seperti sedang nervous. Dia berpindah-pindah tempat beberapa kali dengan cepat, lalu kemudian masuk ke areal display ground. Kami menduga, sudah ada betina yang mendekati display groundnya. Ternyata benar. Seekor yang terlihat, ukurannya sedikit lebih kecil. Tapi warnanya lebih terang yaitu coklat kekuningan, dadanya berwarna krem dengan garis-garis halus kehitaman yang melintang. Sebagaimana semua jenis cenderawasih, individu betina tidak memiliki bulu hiasan.
Sama seperti sang jantan, dia juga sulit dilihat karena terbang berpindah-pindah. Rupanya dia tak sendiri, di sekitar kami sudah ada beberapa, tapi karena perilakunya seperti itu, kami juga sulit memastikan ada berapa ekor dan mana yang sudah terlihat dan mana yang belum. Suatu waktu, sang jantan tiba-tiba melompat ke display ground. Setelah mengamati sekelilingnya beberapa saat, tiba-tiba tubuhnya ditegakkan dan beberapa detik kemudian bulu-bulu di bagian pinggangnya dikembangkan. Ini membuat dia terlihat seperti boneka hitam yang mengenakan rok model A. Lucu sekali karena dengan gaya itu, kakinya justru terlihat seperti seperti catat berbentuk X.
Itu belum selesai. Beberapa saat sesudah itu, masih dengan berdiri tegak dengan rok model A-nya, dia mulai bergerak dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, masing-masing tiga atau empat langkah. Gerakan ini membuat bulu-bulu raketnya juga ikut bergoyang. Jadi kombinasi antara lenggak-lenggoknya dengan goyangan bulu raket ini membuat dia terlihat seperti boneka mainan yang digerakkan oleh baterai. Gerakan ini dilakukan berkali-kali, boleh dikata sampai kami puas menontonya. Rupanya inilah yang disebut tarian cenderawasih. Saya tercenung selama beberapa saat karena tak habis pikir bagaimana ada makhluk yang bisa seperti itu.
Perkawinan seharusnya terjadi di sela-sela tarian itu. Tapi saya sendiri tak melihatnya. Perkawinan itu mungkin terjadi di dahan yang tidak terjangkau oleh lobang intip kami, karena ketika menari ada beberapa kali sang jantan berhenti lalu terbang meninggalkan display ground. Menurut literatur, selama sang jantan menari beberapa betina akan menyaksikannya. Betina yang tertarik kemudian akan ‘menyerahkan’ diri untuk dikawini.
Selama beberapa menit yang mencengangkan itu, Cacah menghabiskan tak terhitung jepretan. Bunyi kamera tak henti-hentinya, beberapa di antaranya dengan lampu kilat. Di awal jepretan dan di awal penggunaan lampu kilat, burung sempat terganggu. Lampu kilat khususnya sempat membuat dia terbang meninggalkan display ground. Tapi untung kembali lagi. Sesudah itu, meski sempat beberapa kali terkejut, dia tak lagi kabur oleh lampu kilat.
Sayangnya hasil jepretan tidak bisa langsung dilihat. Waktu itu dunia fotografi masih menggunakan rol film seluloid dan Cacah harus mengembangkannya di laboratorium-laboratorium langganannya di Jakarta. Bagi saya, itu merupakan sebuah penantian panjang. Lebih dari sepuluh tahun kemudian barulah saya bisa melihat hasilnya. Waktu itu saya sudah tidak bekerja di Papua lagi dan bertemu Cacah di Tangkoko, Sulawesi Utara. Cacah menghadiahi saya beberapa lembar kartu pos bergambar satwa liar Indonesia, salah satunya gambar burung yang kami lihat itu.
* * *
Kartu pos Cacah itu itu membangkitkan ingatan saya akan sore yang mengagumkan itu. Betapa kayanya Papua. Sekitar 38 jenis cenderawasih terdapat di pulau ini (sekitar lima jenis terdapat di luar Papua, termasuk Maluku). Setiap hari tentu saja ada cenderawasih yang menari di bumi paling timur Indonesia ini. Meskipun dilakukan di di tengah-tengah kesunyian belantara Papua yang kadang tak bersahabat itu, tarian ini telah menginspirasi manusia selama berabad-abad. Orang Papua percaya bahwa burung ini telah meminum sari sejenis bunga yang memabukkan sebelum menari. Dan karena semua awetan cenderawasih telah dihilangkan kakinya, orang Melayu juga percaya bahwa cenderawasih adalah burung yang tidak berkaki, yang tidak pernah bertengger, dan yang terbang dengan kepala yang terus-menerus menghadap matahari. Mereka lalu menamai burung ini manuk dewata alias burung dewata.
Orang Eropa juga tak kalah lucunya. Ketika awetan pertama cenderawasih tiba di Eropa—dibawa oleh anak buah pengeliling dunia Magelhaens—kehebohan langsung melanda. Beberapa bangsawan dan petinggi Eropa terlibat, termasuk kalau tidak salah seorang Uskup. Karena bersama awetan itu juga para pelaut mengedarkan cerita-cerita yang mereka dengar dari orang Melayu, mitos cenderawasih pun melanda Eropa. Mereka percaya burung ini tak berkaki, dan ilmuwan mereka yang memberi nama ilmiah pada burung ini juga ikut-ikutan. Dia memberi nama pada spesimen yang ditelitinya ‘Paradisaea apoda’ yang secara harfiah berarti‘burung surga yang tidak berkaki’.
Cenderawasih nanti benar-benar ‘menjadi makhluk nyata’ setelah Rene Lesson, kemudian Alfred Wallacea berhasil melihat individu hidupnya langsung di alam. D’Albertis menyusul keduanya, dia menjadi orang bukan Papua pertama yang melihat beberapa jenis cenderawasih yang hidup di pegunungan. Menariknya, semua momen bersejarah ini terjadi di wilayah Manokwari—Lesson mungkin di sekitar Sanggeng atau Wosi sekarang, Wallace di sebuah sungai kecil di bagian utara Manokwari, d‘Alberis di Pegunungan Arfak. (sayang, saya belum sempat memeriksa jenis-jenis apa yang dilihat oleh masing-masing mereka).
Lesson adalah peneliti Perancis yang berlabuh di depan Manokwari di tahun 1820-an, Wallace adalah adalah salah satu pencetus teori evolusi asal Inggris yang pernah tinggal di sebuah pondok di pinggir kota Manokwari tahun 1850-an, sedangkan d’Albertis adalah seorang naturalis Italia yang memasuki pedalaman Arfak sekitar 1870. Selain Arfak, dia juga telah berlayar hingga ratusan mil jauhnya ke pedalaman di Sungai Fly, Papua New Guinea. Sayangnya, dia nampaknya seorang naturalis yang flamboyan. Di Arfak dia sempat mengintimidasi penduduk lokal dengan senapannya, di PNG dia menakut-nakuti penduduk yang memusuhinya dengan tembakan roket bunga api.
Terlepas dari semua itu, saya merasa beruntung karena setidaknya pernah berada di Manokwari dan Pegunungan Arfak, dua tempat bersejarah di Papua. Tapi saya kira Cacah lebih beruntung lagi. Di luar topik sejarah, dia adalah fotografer satwa liar yang telah mengunjungi mungkin semua kawasan konservasi yang ada di Indonesia. Foto-foto berkualitas yang dihasilkan dari perjalanan-perjalanan itu telah terbit di sejumlah publikasi dalam dan luar negeri. Saat tulisan ini sedang dibuat beberapa hari lalu, saya mengirim sms ke dia. Ternyata dia sedang berada di Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti, Sumba Timur, tentu untuk memotret lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar