Jumat, 13 November 2015

Sebuah renungan tentang silsilah

Istilah silsilah selalu menimbulkan kesan sesuatu yang membuka ke bawah dari sebuah pangkal.  Sebagai contoh, pangkal itu misalnya Eliezer Dimpudus.  Dari Eliezer muncul beberapa cabang yaitu Paul, Rhein, dan Melchior, dst.  Selanjutnya, dari masing-masing cabang ini, muncul lagi cabang-cabang berikutnya.  Begitu seterusnya, sampai kepada kita-kita.  Saya misalnya adalah cabang tingkat ketiga.  Ibu saya tingkat dua.  Anak saya, tingkat empat.  Jadi, silsilah menggambarkan sesuatu yang mirip percabangan akar pohon; membuka ke bawah.

Tapi di antara kita jarang ada yang membayangkan sebaliknya, bahwa saya diturunkan dari sepasang orang tua yaitu ibu dan bapa.  Ibu saya juga diturunkan dari sepasang oma-opa, dan bapak saya diturunkan dari sepasang oma-opa yang lain.  Jadi pada level ini, kita sebenarnya memiliki empat leluhurdua oma dan dua opa.  Selanjutnya, masing-masing oma dan opa ini juga diturunkan dari pasangan-pasangan kakek/nenek buyut.  Begitu seterusnya ke atas, dan disini silsilah menggambarkan hal yang sebaliknya yaitu membuka ke atas, mirip cabang-cabang pohon.

Dalam konteks membuka ke atas, maka Eliezer Dimpudus berarti hanya salah satu dari sekian banyak leluhur yang menurunkan saya.  Secara matematis jumlah leluhur yang terlibat dalam menurunkan saya di setiap level generasi dapat dihitung dengan rumus‘dua pangkat’.  Di level pertama (ibu-bapak), ada ‘dua pangkat satu’ leluhur, yaitu dua leluhur.  Di level atas kedua (oma-opa), ada ‘duapangkat dua’, yaitu empat leluhur.  Di level atas ketiga (kakek/nenek buyut), ada ‘dua pangkat tiga’ atau delapan leluhur.

Silsilah membuka ke atas memiliki beberapa sisi menarik.  Salah satunya yaitu kepastiannya bahwa setiap individu pada level manapun, pasti memiliki sepasang orang tua.  Jadi rumus ‘dua pangkat’ disini adalah sebuah kepastian.  Dengan begitu maka kita dapat memastikan bahwa pada level di atas Eliezer Dimpudus (empat generasi di atas saya), jumlah leluhur saya ada ‘dua pangkat delapan’ atau 16 orang; pada generasi ke-sepuluh di atas saya ada 1024 leluhur; pada generasi ke-20 di atas ada 1.048.576 leluhur; dan pada generasi ke-25 di atas saya ada lebih dari 30 juta orang leluhur.

Tapi kita tidak bisa menghitung terus ke atas seperti itu, karena itu pada level tertentu, jumlah penduduk pada waktu itu akan membatasinya.  Sebagai contoh, pada generasi ke-60 di atas saya, jumlah leluhur saya sudah berjumlah lebih dari satu trilyun orang.  Padahal, kalau satu generasi rentang waktunya sepertiga abad, maka 60 generasi berarti 2000 tahun lalu.  Pada waktu itu, populasi manusia diperkirakan baru berjumlah 200 juta orang.  Jadi, faktor pembatas perhitungan membuka ke atas adalah jumlah populasi manusia yang perkembangannya membuka ke bawah.  Ada suatu masa dimana perhitungan jumlah leluhur akan sama dengan jumlah populasi manusia.  Pada masa itu, menariknya, seluruh umat manusia yang ada di bumi adalah leluhur kita.


Sekarang kita kembali ke 2000 tahun lalu atau 60 generasi di atas kita.  Karena populasi manusia waktu itu cuma 200 juta orang, sementara leluhur kita menurut perhitungan sudah ribuan kali lipat dari jumlah ini, maka peluang kita untuk mengklaim setiap manusia yang hidup waktu itu, sangatlah besar, bahkan merupakan kepastianDengan pemikiran itu, masing-masing kita dapat saja mengklaim bahwa salah satu murid Yesus adalah leluhur kita (selama murid itu dipastikan telah kawin).  Sayangnya, ini berarti kita bisa mengklaim bahwa Herodes atau Yudas Iskariot adalah leluhur kita (selama keduanya bisa dipastikan telah kawin).

Rabu, 11 November 2015

Cacah, d'Albertis, dan seekor burung bernama Miyet

Tahun-tahun pertama bekerja untuk Pegunungan Arfak, saya benar-benar terobsesi dengan masa lalunya.  Blok pegunungan di sisi timur laut kepala burung Papua ini, adalah bagian dari pedalaman pulau Papua pertama yang ditembus oleh orang luar.  Selama kurang lebih empat atau lima puluh ribu tahun sebelumnya, pulau kedua terbesar di dunia ini sepertinya hanya diciptakan untuk orang Papua saja.  Orang luar seperti tak diberi kesempatan untuk melongok ke bagian pedalamannya yang misterius.  Bahkan orang-orang dari ras Mongolid Selatan pun—yang haus lahan dan mampu menduduki semua pulau di bagian Indonesia yang lain—hanya bisa ‘menyisip’ di sepanjang pesisir utaranya sewaktu menyebar menuju Pasifik dari Halmahera sekitar tiga atau empat ribu tahun lalu, dengan meninggalkan sedikit jejak bahasa dan genetis.  Papua adalah bumi yang kelam, kejam dan menakutkan bagi bangsa-bangsa di sebelah baratnya selama beberapa puluh abad.

Tapi pada tahun 1870, semuanya berubah.  Maria Luigi d’Albertis, seorang naturalis dan petualang asal Italia berhasil memasuki pedalamannya kemudian mengumpulkan sejumlah spesimen hewan dan tumbuhan yang beberapa di antaranya belum pernah dilihat oleh orang luar.  Daerah yang dimasuki oleh d’Albertis itu adalah Pegunungan Arfak, sebuah blok pegunungan di sisi timur laut Kepala Burung, tempat saya bekerja, dan D’Albertis memulai perjalanan bersejarahnya dari sebuah desa dekat pantai bernama Andai, beberapa kilometer di sebelah selatan Manokwari.  Desa ini cukup akrab dengan saya.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Vink (Botanical Exploration of the Arfak Mountains, 1965), saya mengetahui bahwa rute yang dilalui d’Albertis belum pernah saya lewati.  Selama ini, perjalanan ke Pegunungan Arfak dilakukan melalui rute Warmare-Mokwam-Minyambou, dengan mengikuti Sungai Prafi.  Untuk ukuran saya, waktu tempuhnya kira-kira satu setengah hari jalan kaki ditambah bermalam.  Jika tidak menggunakan rute darat, saya bisa menggunakan rute udara dengan menumpang pesawat Cessna milik Mission Aliance Fellowship (MAF).  Dengan pesawat 8 seat (termasuk pilot) ini, Minyambou dapat dicapai dalam waktu kira-kira 25 menit.  Ini adalah desa terbesar di Pegunungan Arfak setelah Mokwam dan mungkin Demaisi.  Disini terdapat lapangan terbang rumput yang dibangun Misi, sebuah Pos Misi dengan keluarga misionarisnya, dan sebuah Pos lapangan WWF.

Rute yang digunakan oleh d’Albertis terletak agak di selatan rute Warmare.  Bermula dari Andai dan berakhir di Ciraubri (kalau tidak salah), rute ini memang lebih pendek.  Tapi tingkat kesulitan, jangan ditanya.  Sebagaimana hampir semua pesisir timur Pegunungan Arfak, disini Pegunungan Arfak seperti langsung menyembul ke langit dari garis pantai.

Untuk mendapat lebih banyak keterangan, saya mengirim surat ke Vink, seorang ahli botani di Leiden, penulis sejarah eksplorasi botani Pegunungan Arfak.  Ternyata surat saya dia balas dengan sebuah peta dimana rute d’Albertis sudah dia tandai dengan pindil.  Saya juga menyurati seorang botanis kenalan saya di Belanda, William, yang pernah bersama-sama dalam Ekspedisi Linaeus tahun 1991, meminta difotokopikannya buku d’Albertisi untuk saya, ‘New Guinea: What Idid and what I saw’ (1880).  Tapi sayang, hasilnya kurang menggembirakan.  Dia hanya mengirimi saya kopi lembar cover serta beberapa halaman prefacenya, dan melalui secarik surat berkata, ‘…maaf Herman, pihak perpustakaan tidak mengijinkan saya memfotokopi buku itu seluruhnya karena kondisinya tidak memungkinkan lagi...’

Jadi saya beralih ke peta Vink.  Lewat beberapa sobat Arfak saya, saya bisa tahu bahwa rute yang dipakai d’Albertis adalah rute tua, yang biasa dipakai oleh orang-orang tua mereka dulu untuk ke Minukwar (nama lama kota Manokwari).  Sekarang, setelah rute Warmare mengggantikannya, rute itu tidak terawat lagi.  Tapi menurut mereka, di salah satu titiknya ada pondok milik salah seorang sobat kami, dan itu bisa dipakai untuk istirahat.  Saya memutuskan, suatu waktu saya harus mencoba rute ini.  Saya ini merasa jadi D’Albertis.

Sayangnya selama lebih dari setahun berikut berbagai hal telah membuat saya tidak bisa mewujudkan impian itu.  Saya tetap menggunakan rute normal Warmare-Mokwam-Minyambou, atau kadang-kadang terbang dengan menumpang pesawat MAF.  Keadaan ini berlangsung sampai suatu ketika tanpa disangka-sangka datang kabar dari Jakarta bahwa Riza Marlon akan memotret di Pegunungan Arfak.  Riza atau yang akrab dipanggil ‘Cacah’ adalah seorang fotografer satwa liar kawakan.  Dia sudah memotret berbagai jenis satwa liar di hampir semua kawasan konservasi di Indonesia.  Namanya sudah saya dengar sejak saya mengikuti Ekspedisi Trekforce (Taman Nasional Manusela, Seram, Maluku, 1990), tapi perkenalan dengannya baru terjadi setelah kami ketemu di Cagar Alam Tangkoko beberaapa waktu sesudah itu.  Dia akan ke Arfak untuk memootret burung cenderawasih, dan kabar rencana kunjungan itu saya sambut dengan menyusun rencana untuk menjajal rute d’Albertis.

Cacah tidak tahu soal ini.  Dalam perencanaannya dia memang tidak bicara rute.  Bagi dia yang lebih penting objek foto.  Arfak adalah salah satu cagar alam di Kepala Burung Papua yang memiliki beberapa jenis cenderawasih pegunungan yang langka.  Kelebihan ini antara lain yang membuat kawasan seluas 68.325 hektar ini (Kepmenhut No. 783/Kpts-II/1992, 11 Agustus 1992) di ketingggian antara 1500 smpai 2500 meter dpl ini dipilih oleh produsen film dokumenter BBC London menjadi salah satu tempat shooting film ‘Attenborough in paradise’.  Jadi Arfak adalah kawasan yang punya nilai fotografi, dan ini yang penting bagi Cacah.

Kebetulan, saya sempat terlibat dalam persiapan pembuatan film BBC tersebut.  Konsultan biologinya, David Gibb telah memanfaatkan posisi saya di WWF untuk menjadi penghubung dengan beberapa ‘pemilik’ burung cenderawasih.  Mereka harus mengidentifikasi, memantau dan melaporkan lokasi-lokasi display dari beberapa jenis burung cenderawasih beserta semua perubahan yang terjadi pada burung dan display-nya sebelum para kameramen BBC datang.  Ceritanya, di seluruh Papua rupanya umum bahwa burung-burung cenderawasih ada pemiliknya.  Di Pegunungan Arfak, setiap jengkal tanah ada pemiliknya dan kepemilikan itu juga mencakup burung-burung cenderawasih yang bersarang di atasnya.  Kebetulan, burung cenderawasih kalau hendak kawin, jantannya akan membangun tempat menari (display ground) di lantai hutan, dan ini yang menjadi dasar klaim kepemilikan.  Orang luar yang hendak memotret atau membuat film harus membayar.

Tugas dari David Gibbs itu membuat saya berkenalan dengan seluk beluk hubungan antara manusia dan burung di Pegunungan Arfak, dan itu sekarang menjadi bagian penting dari misi perburuan Cacah.  Makanya dalam diskusi-diskusi dengan dia, yang dibahas justru soal ini, bukan rute.

Sayangnya, dalam soal rute saya agak teledor.  Pertama, saya tidak memperhitungkan dengan cermat kondisi rute Andai.  Saya hanya mengandalkan informasi dari sobat-sobat Arfak saya, yang jelas-jelas mengabaikan persoalan fisik kalau hendak jalan-jalan di ‘pegunungan rumah mereka’.  Kedua, dan ini yang celakanya, pada malam sebelum keberangkatan, saya bukannya tidur untuk menjaga kondisi tapi saya justru begadang sampai pagi dengan beberapa teman kantor yang tidak ikut.  Jadinya bicara soal mewujudkan mimpi menjadi seorang d’Albertis, saya sesungguhnya tidak siap.

Hari itu, pagi-pagi sekali kami sudah didrop oleh mobil kantor ke Desa Andai.  Saya membayangkan, kira-kira 120 tahun yang lalu Luigi d’Albertis juga melakukan hal yang sama.  Tapi selain dia tidak menggunakan mobil, disini juga ada perbedaaan bagai gunung dan langit.  D’Albertis pasti sangat siap dengan fisiknya (dalam kisah perjalanannya dia sama sekali tidak mempersoalkan medan), sementara saya justru sangat tidak siap.  Baru beberapa menit berjalan, saya mulai merasakan segala akibat buruk dari begadang semalam suntuk.  Saya merasa pening, kepala nyut-nyut dan saya merasa limbung seperti tak bertulang.  Sementara di depan saya jalan terus-menerus menanjak, beberapa harus ditebas karena tertutup liana berkayu.

Saya memang merencanakan rute akan ditempuh dalam dua hari.  Artinya kami harus beristirahat di suatu tempat yang menurut informasi adalah sebuah sebuah pondok terpencil milik seseorang bermarga Ulo.Tapi faktanya, fisik saya yang drop membuat saya tak bisa mengendalikan perjalanan.  Saya terus-terusan tertinggal dengan hanya ditemani oleh satu porter, dan kemudian kehilangan kontak dengan anggota rombongan yang lain.  Saya tidak tahu dimana posisi orang paling depan, dan saya juga tak melihat Cacah sejak kira-kira satu jam setelah start.  Jadi saya tidak yakin apakah instruksi sebelumnya bahwa kami akan bermalam di Pondok Ulo akan ditepati.  Para porter dari pedalaman ini biasanya lebih suka ngebut untuk bisa tiba di lokasi tujuan apalagi jika mereka melihat tamunya mampu secara fisik.  Cacah memiliki fisik yang jauh lebih baik dari saya.  Dia pengalaman menjelajah berbagai medan hutan di Indonesia.  Jadi dia pasti bisa mengimbangi kecepatan para porter, namun tentu tidak bisa menahan mereka untuk bermalam di Pondok Ulo.  Dia buta dengan Arfak.

Dalam keraguan itu, saya tetap berharap mereka patuh pada rencana untuk bertemu di Pondok Ulo.  Tapi ternyata yang saya khawatirkan terjadi.  Hari sudah gelap ketika saya tiba di pondok itu.  Pondok itu sunyi sesunyi rimba raya di sekelilingnya.  Hanya Pak Tua Ulo dan seorang anaknya yang ada disitu.  Dalam keadaan seperti mabuk alkohol, sempoyongan dan mata berkunang-kunang, saya hanya sempat bertanya kapan rombongan Cacah lewat.  Sesudah itu saya roboh di depan pondok.  Antara sadar dan tidak saya menyaksikan bagaimana sibuknya Pak Tua Ulo yang kebingungan mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan unggun di dekat saya.  Dengan baju basah kuyup dan tubuh lemah, saya memang beresiko tersengat dingin udara malam Pegunungan Arfak.  Untungnya, beberapa jam sesudah itu penunjuk jalan yang mendampingi saya membangunkan saya dan dengan begitu saya bisa pindah ke dalam pondok.  Disitu saya tidur seperti orang mati.

Paginya saya terbangun dengan sekujur tubuh terasa sakit.  Pundak saya lecet oleh gesekan ransel.  Tangan perih oleh goresan duri serta irisan daun-daun tajam.  Sementara otot-otot kaki terasa seperti diiris-iris.  Karena semalam tidak makan, saya kelaparan.  Penunjuk jalan langsung memasakkan saya mie instan dan saya menghabiskannya bersama beberapa potong keladi ang disiapkan Pak Tua Ulo.  Tapi karena khawatir dengan Cacah, selesai makan kami langsung pamit.  Pak tua Ulo sebenarnya lebih ingin saya berangkat siang, tapi dia tidak bisa menahan saya.  Mungkin karena prihatin dengan keadaan saya, dia ‘menghadiahkan’ saya sebuah tongkat kayu yang dia buat dengan tergesa-gesa.

Menit-menit pertama meninggalkan Pondok Ulo memang sangat menyiksa.  Kaki saya sulit digerakkan, dan jika digerakkan sakitnya minta ampun.  Padahal medan yang harus dilalui tak banyak bedanya dengan kemarin.  Menggunakan tongkat Pak Tua Ulo, saya berjalan dengan tertatih-tatih.  Ini membuat gerak maju kami lambat sekali.  Beruntung kali ini saya merasa fisik saya sudah lebih baik dari kemarin.  Ini mungkin karena semalam saya sempat menikmati tidur yang cukup panjang.  Jadi hari sudah menjelang petang ketika saya tiba di Pos WWF Menyambou.

Di halaman Pos WWF, Cacah sudah menunggu.  Tanpa babibu, dia langsung ‘menyemprot’ saya.  Rupanya para porter atau penunjuk jalan sudah bercerita kepadanya bahwa ada rute lain yang lebih baik.  Dia mempersalahkan saya karena memilih rute yang ini.  Menurutnya itu sangat beresiko bagi pekerjaannya.  Waktu yang tersedia tidak banyak.  Sekarang waktu itu akan terpotong untuk istirahat pemulihan fisik, karena dia juga kelelahan, belum lagi kalau dia cedera.  Misi bisa gagal total, dan seterusnya, dan seterusnya.  Pokoknya semua gara-gara saya.  Ketika saya tanya dia kapan tiba di pos, dia jawab jam sebelas malam.  Saya terkejut.  Pantas dia ngomel terus.

Besoknya, setelah menikmati istirahat yang cukup di Pos Menyambou, barulah saya mulai menjalankan tugas. Sebagaimana sudah dikemukakan di atas, di pegunungan Arfak, setiap tempat menari burung cenderawasih liar (display ground) ada pemiliknya.  Tugas saya pagi ini adalah bertemu dengan beberapa penduduk pemilik cenderawasih dan merundingkan soal pembayaran.  Mereka, secara etnis adalah orang-orang Hatam.  Cenderawasih adalah burung yang mengagumkan.  Mungkin bermula dari nenek moyang yang mirip gagak, evolusi yang mereka jalani telah menghasilkan individu jantan dengan perilaku kawin yang sangat unik.  Setiap jantan akan memikat betina dengan cara mengembangkan bulu-bulu hiasnya dan melakukan gerakan-gerakan yang mungkin secara keliru telah didefinisikan sebagai menari.  Beberapa jenis melakukan itu di dahan-dahan pohon yang tidak terlalu besar, yang lain melakukannya di lantai hutan yang sudah ‘ditata’.  Jadi orang Hatam yang berunding dengan saya pagi pagi itu adalah mereka-mereka yang menjamin bahwa burung itu ada karena sudah diikuti lebih dari seminggu.

Singkat kata, negosiasi berjalan lancar.  Ada beberapa ‘display ground’ cenderawasih yang bisa dipastikan.  Dan sebagaimana biasanya, harga burung disini sudah termasuk harga pondok persembunyian atau ‘blind’.  Pondok itu—yang sangat penting bagi orang yang bekerja dengan kamera seperti Cacah—biasanya dibangun dari batang-batang kayu yang ditutupi dengan daun-daun palem.  Mengenai hal ini saya tak perlu ragu.  Pengalaman saya orang Hatam adalah ahlinya.  Mereka dapat membuat blind yang letaknya sangat dekat dengan burung sehingga orang yang di dalam blind bisa menangkap burung yang tengah diintip kalau mau.

Obyek utama kami adalah Parotia Arfak, sejenis cenderawasih hitam yang hanya terdapat di gunung-gunung daerah Kepala Burung Papua serta daerah Wandamen (di ‘dasar’ Teluk Cenderawasih).  Mengikuti semua instruksi dari ‘pemiliknya’, maka pada pagi berikutnya kami melakukan sebuah pendakian kecil ke arah lokasi sang burung.  Kami tiba disitu tak sampai satu jam berjalan.  Di situ, di tengah belantara khas pegunungan, sebuah pemandangan kecil langsung menarik perhatian.  Sebuah blind dibangun di bawah beberapa jalinan sulur liana yang seukuran lengan, rancangannya sempurna.  Hanya manusia yang akan curiga itu bukan tumpukan daun yang terbentuk secara alami.  Di depannya ada sepetak kecil tanah seukuran kira-kira satu meter bujur sangkar yang ‘sangat bersih’ sehingga permukaan tanahnya terlihat.  Bentuknya agak membundar.  Mula-mula saya kira pemilik lahan yang membersihkan (karena memang saya belum pernah melihatnya).  Tapi ternyata bukan.  Yang membersihkan itu adalah burung yang kami cari.  Jadi itu adalah display ground dari Parotia Arfak (Parotia sefilata), burung yang oleh orang Hatam disebut Miyet.

Khawatir jangan sampai burungnya keburu datang, saya dan Cacah langsung masuk ke dalam blind.  Sementara pemilik lahan, dia langsung pergi meninggalkan kami.  Ukuran blind yang tak sampai dua kubik isi itu, membuat saya dan Cacah nyaris tak bisa bergerak di dalamnya.  Kami berdua, beberapa kamera, beberapa lensa panjang, dan beberapa lampu kilat serta tripod harus berbagi ruang.

Tak berlama-lama Cacah langsung bersiap.  Dia membuat beberapa celah di dinding blind yang menghadap display ground, lalu memasukkan moncong kamera sambil mencari-cari posisi bidik yang tepat.  Dia juga membuat lobang untuk lampu kilat, menyiapkan kamera cadangan, beberapa lensa yang berbeda ukuran, dan memasang tripod.  Bersentuh-sentuh badan dengan dia, saya tak mau ketinggalan.  Saya mengorek-ngorek sebuah celah di antara jalinan daun palem untuk menghasilkan sebuah lobang intip yang nyaman.  Ini semua kami lakukan dengan nyaris tanpa suara.

Setelah semua siap, kami duduk membisu.  Ini ternyata menjadi menit-menit yang paling menyiksa.  Nyamuk sangat banyak, selain itu juga ada beberapa lalat besar yang gigitan dapat menimbulkan luka, dan keduanya silih berganti mengganggu kami.  Sementara kami tidak bisa banyak bertindak karena takut menimbulkan suara yang dapat membuat burung yang kami tunggu lari.

Cukup lama juga kami menunggu dalam keadaan seperti itu,sebelum akhirnya tiba-tiba terdengar sebuah suara kaak..kaak mirip kakatua.  Suara itu datang dari arah depan atas yang tidak terjangkau oleh pandangan dari lobang-lobang intip kami.  Saya tidak punya pengalaman dengan Cenderawasih, Cacah juga begitu.  Di kantor Manokwari terdapat beberapa kaset berisi rekaman suara burung, di ransel saya ada buku panduan burung-burung Papua (Beehler, et al).  Tapi semua menjadi tak berguna karena obyek yang kami hadapi benar-benar asing.  Kami mencoba mengintip, tapi sang sumber suara tak terlihat.  Hanya karena suara itu semakin sering dan semakin dekat—beberapa disertai dengan bunyi kepakan yang berpindah tempat—maka kami yakin kalau itu adalah burung yang kami tunggu.

Perkiraan kami benar.  Menyusul bunyi kepak sayap yang terdengar melintas dekat sekali, kami kini bisa melihat seekor burung tiba-tiba muncul di sebuah sulur dekat display ground.  Ketegangan langsung melanda kami, masing-masing berusaha melihat dari lobang intip.  Burung yang terlihat itu panjangnya kira-kira 30 cm.  Tubuhnya membulat, ekornya agak pendek, warnanya nyaris hitam pekat kecuali di bagian dada berkas metalik mengkilat.  Sepintas lalu, itu burung yang tidak terlalu menarik.  Tapi ada yang unik disini.  Burung itu mempunyai bulu-bulu raket di belakang kepanya.  Jumlahnya enam, bentuknya mirip raket badminton atau korek kuping dari bulu ayam, cuma tangkainya agak halus dan kepanjangan.  Bulu itu tumbuh dari bagian belakang kepala ke arah bawah sampai ke dekat pangkal ekor, tapi nanti teramati kalau kebetulan burungnya bergerak atau menggoyangkan tubuh.  Benar, itu adalah Parotia sefilata.

Tapi selama beberapa waktu burung itu hanya terbang pendek-pendek, berpindah-pindah tempat, masuk ke display ground sesaat, kemudian terbang lagi, bersuara, diam, begitu seterusnya sampai suatu saat dia mulai terlihat seperti sedang nervous.  Dia berpindah-pindah tempat beberapa kali dengan cepat, lalu kemudian masuk ke areal display ground.  Kami menduga, sudah ada betina yang mendekati display groundnya.  Ternyata benar.  Seekor yang terlihat, ukurannya sedikit lebih kecil.  Tapi warnanya lebih terang yaitu coklat kekuningan, dadanya berwarna krem dengan garis-garis halus kehitaman yang melintang.  Sebagaimana semua jenis cenderawasih, individu betina tidak memiliki bulu hiasan.

Sama seperti sang jantan, dia juga sulit dilihat karena terbang berpindah-pindah.  Rupanya dia tak sendiri, di sekitar kami sudah ada beberapa, tapi karena perilakunya seperti itu, kami juga sulit memastikan ada berapa ekor dan mana yang sudah terlihat dan mana yang belum.  Suatu waktu, sang jantan tiba-tiba melompat ke display ground.  Setelah mengamati sekelilingnya beberapa saat, tiba-tiba tubuhnya ditegakkan dan beberapa detik kemudian bulu-bulu di bagian pinggangnya dikembangkan.  Ini membuat dia terlihat seperti boneka hitam yang mengenakan rok model A.  Lucu sekali karena dengan gaya itu, kakinya justru terlihat seperti seperti catat berbentuk X.

Itu belum selesai.  Beberapa saat sesudah itu, masih dengan berdiri tegak dengan rok model A-nya, dia mulai bergerak dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, masing-masing tiga atau empat langkah.  Gerakan ini membuat bulu-bulu raketnya juga ikut bergoyang.  Jadi kombinasi antara lenggak-lenggoknya dengan goyangan bulu raket ini membuat dia terlihat seperti boneka mainan yang digerakkan oleh baterai.  Gerakan ini dilakukan berkali-kali, boleh dikata sampai kami puas menontonya.  Rupanya inilah yang disebut tarian cenderawasih.  Saya tercenung selama beberapa saat karena tak habis pikir bagaimana ada makhluk yang bisa seperti itu.

Perkawinan seharusnya terjadi di sela-sela tarian itu.  Tapi saya sendiri tak melihatnya.  Perkawinan itu mungkin terjadi di dahan yang tidak terjangkau oleh lobang intip kami, karena ketika menari ada beberapa kali sang jantan berhenti lalu terbang meninggalkan display ground.  Menurut literatur, selama sang jantan menari beberapa betina akan menyaksikannya.  Betina yang tertarik kemudian akan ‘menyerahkan’ diri untuk dikawini.

Selama beberapa menit yang mencengangkan itu, Cacah menghabiskan tak terhitung jepretan.  Bunyi kamera tak henti-hentinya, beberapa di antaranya dengan lampu kilat.  Di awal jepretan dan di awal penggunaan lampu kilat, burung sempat terganggu.  Lampu kilat khususnya sempat membuat dia terbang meninggalkan display ground.  Tapi untung kembali lagi.  Sesudah itu, meski sempat beberapa kali terkejut, dia tak lagi kabur oleh lampu kilat.

Sayangnya hasil jepretan tidak bisa langsung dilihat.  Waktu itu dunia fotografi masih menggunakan rol film seluloid dan Cacah harus mengembangkannya di laboratorium-laboratorium langganannya di Jakarta.  Bagi saya, itu merupakan sebuah penantian panjang.  Lebih dari sepuluh tahun kemudian barulah saya bisa melihat hasilnya.  Waktu itu saya sudah tidak bekerja di Papua lagi dan bertemu Cacah di Tangkoko, Sulawesi Utara.  Cacah menghadiahi saya beberapa lembar kartu pos bergambar satwa liar Indonesia, salah satunya gambar burung yang kami lihat itu.

* * *

Kartu pos Cacah itu itu membangkitkan ingatan saya akan sore yang mengagumkan itu.  Betapa kayanya Papua.  Sekitar 38 jenis cenderawasih terdapat di pulau ini (sekitar lima jenis terdapat di luar Papua, termasuk Maluku).  Setiap hari tentu saja ada cenderawasih yang menari di bumi paling timur Indonesia ini.  Meskipun dilakukan di di tengah-tengah kesunyian belantara Papua yang kadang tak bersahabat itu, tarian ini telah menginspirasi manusia selama berabad-abad.  Orang Papua percaya bahwa burung ini telah meminum sari sejenis bunga yang memabukkan sebelum menari.  Dan karena semua awetan cenderawasih telah dihilangkan kakinya, orang Melayu juga percaya bahwa cenderawasih adalah burung yang tidak berkaki, yang tidak pernah bertengger, dan yang terbang dengan kepala yang terus-menerus menghadap matahari.  Mereka lalu menamai burung ini manuk dewata alias burung dewata.

Orang Eropa juga tak kalah lucunya.  Ketika awetan pertama cenderawasih tiba di Eropa—dibawa oleh anak buah pengeliling dunia Magelhaens—kehebohan langsung melanda.  Beberapa bangsawan dan petinggi Eropa terlibat, termasuk kalau tidak salah seorang Uskup.  Karena bersama awetan itu juga para pelaut mengedarkan cerita-cerita yang mereka dengar dari orang Melayu, mitos cenderawasih pun melanda Eropa.  Mereka percaya burung ini tak berkaki, dan ilmuwan mereka yang memberi nama ilmiah pada burung ini juga ikut-ikutan.  Dia memberi nama pada spesimen yang ditelitinya ‘Paradisaea apoda’ yang secara harfiah berarti‘burung surga yang tidak berkaki’.

Cenderawasih nanti benar-benar ‘menjadi makhluk nyata’ setelah Rene Lesson, kemudian Alfred Wallacea berhasil melihat individu hidupnya langsung di alam.  D’Albertis menyusul keduanya, dia menjadi orang bukan Papua pertama yang melihat beberapa jenis cenderawasih yang hidup di pegunungan.  Menariknya, semua momen bersejarah ini terjadi di wilayah Manokwari—Lesson mungkin di sekitar Sanggeng atau Wosi sekarang, Wallace di sebuah sungai kecil di bagian utara Manokwari, d‘Alberis di Pegunungan Arfak.  (sayang, saya belum sempat memeriksa jenis-jenis apa yang dilihat oleh masing-masing mereka).

Lesson adalah peneliti Perancis yang berlabuh di depan Manokwari di tahun 1820-an, Wallace adalah adalah salah satu pencetus teori evolusi asal Inggris yang pernah tinggal di sebuah pondok di pinggir kota Manokwari tahun 1850-an, sedangkan d’Albertis adalah seorang naturalis Italia yang memasuki pedalaman Arfak sekitar 1870.  Selain Arfak, dia juga telah berlayar hingga ratusan mil jauhnya ke pedalaman di Sungai Fly, Papua New Guinea.  Sayangnya, dia nampaknya seorang naturalis yang flamboyan.  Di Arfak dia sempat mengintimidasi penduduk lokal dengan senapannya, di PNG dia menakut-nakuti penduduk yang memusuhinya dengan tembakan roket bunga api.

Terlepas dari semua itu, saya merasa beruntung karena setidaknya pernah berada di Manokwari dan Pegunungan Arfak, dua tempat bersejarah di Papua. Tapi saya kira Cacah lebih beruntung lagi.  Di luar topik sejarah, dia adalah fotografer satwa liar yang telah mengunjungi mungkin semua kawasan konservasi yang ada di Indonesia.  Foto-foto berkualitas yang dihasilkan dari perjalanan-perjalanan itu telah terbit di sejumlah publikasi dalam dan luar negeri.  Saat tulisan ini sedang dibuat beberapa hari lalu, saya mengirim sms ke dia.  Ternyata dia sedang berada di Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti, Sumba Timur, tentu untuk memotret lagi.

Meraba jejak Dimpudus dalam Perang Jawa

Tahun 1830, perang Diponegoro meletus di Pulau Jawa.  Perang itu berlarut-larut dan akhirnya menyusahkan Belanda (karena anggaran yang tersedot) hingga akhirnya sebagai bagian dari upaya mengakhirinya, Belanda mengerahkan laskar tulungan, yaitu pasukan yang personil-personilnya direkrut dari berbagai daerah di Hindia Belanda.  Daerah-daerah yang terlibat dalam hal ini yaitu Bali, Maluku Tengah, Ternate, Tidore, Makasar dan Madura, Gorontalo, dan tentu saja Minahasa.

Waktu itu, pemerintahan di Minahasa terbagi atas beberapa walak dimana dua di antaranya dipimpin oleh orang-orang yang berdarah Tonsea dan keduanya masih ada ikatan famili—Tonsea dipimpin oleh Lukas Pelengkahu, Sonder dipimpin oleh Herman Willem Dotulong. Salah satu silsilah keluarga mereka menunjukkan bahwa mereka adalah turunan dari Xaverius Dotulong, pemimpin Kema yang terkenal itu.  Lukas di level cece, Herman di level cicit.

Ternyata, dalam soal kontribusi terhadap penyediaan laskar tulungan, mereka berdualah yang paling besar.  Dari 1400 pemuda Minahasa yang diterjunkan ke kancah perang Jawa itu, hampir setengahnya berasal dari wilayah mereka—377 dari Sonder, 250 dari Tonsea (bandingkan dengan Gorontalo yang cuma memasok 150 pemuda).Dotulong sendiri, juga ikut berangkat ke Jawa (awal 1829), sebagai pemimpin pasukan dengan pangkat Mayoor.  Untuk mendapatkan makna dari angka-angka di atas ini, perlu disadari bahwa penduduk Minahasa waktu perekrutan itu terjadi adalah sekitar ....orang.  Bisa dibayangkan, suasana di kampung-kampung Tonsea setelah keberangkatan pemuda-pemudanya.

Di pulau Jawa,kita tak tahu banyak apa yang terjadi dengan laskar ini.  Tapi sebuah publikasi dari tahun 1909 mengatakan bahwa mereka tidak banyak beraksi karena selain waktunya pendek, kebanyakan dari mereka juga tak dibekali senjata apapun. Sementara Dotulong sendiri, juga dikabarkan sudah minta pulang setelah hanya beberapa bulan tiba di Jawa.

Tapi kontras dengan fakta itu, mitos-mitos tentang mereka justru mengatakan mereka telah memamerkan aksi-aksi heroik dalam perang.  Dotulong katanya berangkat dengan menumpang sehelai daun woka.  Di Jawa dia mengobati banyak orangdengan cara-cara yang ajaib.  Lebih dari pada itu dia bahkan diklaim telah menangkap Pengeran Diponegoro.

Terlepas mitos-mitos tersebut, disini menarik karena peristiwa-peristiwa di seputar Perang Jawa itu terjadi dalam rentang silsilah Dimpudus (yang ada di saya).  Perang itu terjadi antara 1825 s/d 1830, keberangkatan laskar tulungan terjadi di awal 1829, mereka kembali bulan Juni 1830.  Jika kita sandingkan dengan silsilah Dimpudus, peristiwa-peristiwa ini terletak kira-kira tiga perempat dari bagian atasnya; perkiraan kami, pada masa Sumampouw (orang tua dari Manuel dan Israel Dimpudus, kakek dari Eliezer Dimpudus).

Mengapa kami menduga seperti itu?  Alasannya Eliezer Dimpudus lahir tahun 1868, yaitu 38 tahun setelah Perang Jawa berakhir.  Karena Eliezer anak paling bungsu dari lima bersaudara, maka Manuel sebagai orang tuanya mungkin telah kawin 6 atau 7 tahun sebelum kelahiran Eliezer.  Jadi sekitar awal 1860-an atau sekitar 30 tahun setelah Perang Jawa.  Dengan begitu, maka yang paling masuk akal untuk dianggap yang telah menyaksikan peristiwa-peristiwa di seputar Perang Jawa adalah orang tua Manuel, yaitu Sumampouw, di samping, tentu orang tua dan kakak-kakaknya (mengenai waktu disini, bandingkan dengan perkiraan saya mengenai Manuel dan Israel dalam tulisan saya yang satunya lagi).

Pertanyaannya sekarang, apa yang terjadi pada mereka di tengah-tengah suasana terkait Perang Jawa itu?  Ini adalah pertanyaan yang menarik karena suasana itu menimbulkan dampak buruk bagi (kebanyakan)penduduk Tonsea. Untuk memenuhi permintaan akan calon laskar, kepala-kepala walak dibebankan untuk melakukan perekrutan.  Tapi ini membuat Pelengkahu dan Dotulong justru terlibat persaingan dan malah menggunakan kekuasaan sebagai alat.  Keluarga-keluarga yang berhutang, menunggak pajak atau sedang berperkara mereka ‘paksa’ untuk menyerahkan anggotanya (pemuda), sambil Pelengkahu juga disebut-sebut telah memperkaya diri dengan anggaran perekrutan yang disediakan pemerintah.  Katanya uang jasa yang seharusnya diberikan kepada pemuda-pemuda rekrutan, tidak diserahkan.  Jadi ketika para pemuda ini sudah berkumpul di Manado (mungkin untuk latihan), kebutuhan hidup mereka menjadi tanggungan desa dan keluaga (ada informasi, beberapa keluarga terpaksa harus melego barang-barang emasnya).  Sumampouw tentu berada dalam situasi yang digambarkan di atas.

Tapi mengapa situasi seperti itu bisa terjadi?  Latar belakangnya ada di situasi politik kolonial parohan awal abad 19.  Waktu itu sebuah framework baru Pemerintah Belanda menyangkut apa yang harus diperoleh dari rakyat jajahan, baru saja diterapkan.  Untuk mendukung kebijakan itu, kedudukan para pemimpin lokal harus diperkukuh agar mereka nantinya bisa menjadi ‘perantara’ yang baik antara Pemerintah di satu pihak dan rakyat di pihak lain.  Bagi Minahasa momen ini ditandai dengan kunjungan ‘yang penuh kenangan’ oleh Gubernur Jenderal van der Capellen pada tahun 1824.  Kalau boleh saya katakan, kunjungan itu menandai dibukanya ruang bagi sistem pengkelas-kelasan yang belum pernah ada sebelumnya di Minahasa; para kepala-kepala walak atau pemimpin di level yang lebih di bawah mendapat gelar-gelar kepangkatan sistem Belanda, seperti mayoor, dsb.

Perubahan ini ternyata segera diikuti dengan perubahan lain yang berbau tak sedap (tapi sebagian tentu dengan restu Pemerintah).  Walak-walak dengan segera menjadi mirip monarki.  Para pemimpinnya menjadi raja-raja kecil yang menjalankan kekuasaan kebanyakan dengan cara-cara tirani.  Masing-masing mereka kemudian berusaha mempertahankan kedudukannya, dan itu dilakukan dengan menjilat Pemerintah.  Sebagai bagian dari strategi mempertahankan kedudukan itu, mereka juga mulai memetamorfosis diri menjadi bangsawan dan membuat jarak dengan rakyat yang dipimpinnya.  Mereka membentuk kelas sosial sendiri, membangun jaringan di antara mereka melalui kawin-mawin, dan buruknya lagi, membagi atau mewariskan jabatan pemimpin walak kepada sanak famili dan keturunannya.  Dari sini lah lahir keluarga-keluarga elite Minahasa yang beberapa di antaranya masih bertahan hingga sekarang.

Lukas Pelengkahu dan Herman Willem Dotulong termasuk di dalamnya.  Ketika tuan Belanda-nya meminta setoran berupa pemuda-pemuda untuk Perang Jawa, mereka langsung terlibat persaingan sengit untuk mencari muka.  Sebagaimana disinggung di atas, akibatnya adalah munculnya cara yang menyusahkan rakyat.  Di Tonsea memang tidak ada catatan mengenai reaksi rakyat (meski Pelengkahu nampaknya sempat dipengadilankan oleh Belanda akibat ulahnya terkait perekrutan milisi).  Tapi di Sonder, reaksi yang muncul justru terbuka.  Sebagian rakyat Sonder dan Kiawa melarikan diri ke wilayah-wilayah yang di luar jangkauan kekuasaan Dotulong , dan kampung-kampung seperti Munte dan Paku Ure berdiri oleh mereka-mereka yang melarikan diri.

Lalu apa yang terjadi pada leluhur kita Sumampouw?  Apakah dia menjadi salah satu ‘pemuda’ yang dipilih Pelengkahu untuk berperang di Jawa?  Apa alasan pemilihan itu; apakah dia punya utang, menunggak pajak, atau sedang bermasalah dengan Pelengkahu?  Apakah ada alasan lain?  Atau apakah dia hanya kebetulan terpilih dan harus menerima nasib?  Apapun jawabannya, jika memang benar Sumampouw terpilih, kita tentu dapat membayangkan bagaimana beban yang harus ditanggung keluarga-keluarga Dimpudus yang ada di Kema atau Tonsea Lama.  Mereka harus bolak-balik Manado untuk menjamin kehidupan Sumampouw, dan informasi mengatakan hal seperti ini memang terjadi di wilayah Tonsea.  Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka di bawah kondisi alat angkut waktu itu, yang cuma berupa roda sapi (perbandingan, di awal abad 20 saja Opa Paulang tinggal di keluarga Kandouw di Manado, harus pulang jalan kaki ke Kapataran kalau liburan sekolah (waktu itu ayahnya Eliezer sedang menjadi guru di Kapataran).

Hal yang sebaliknya, jika Sumampoiw tidak terpilih dan dia tetap di Tonsea, apa alasannya?  Apakah fisiknya kurang baik?  Apakah dia punya alasan kuat sehingga Pelengkahu mengabaikannya, misalnya karena dia punya anak-anak yang tidak bisa ditinggal (dalam hal ini kakak-kakak dari Manuel dan Israel), apakah salah seorang saudaranya telah menggantikan dia (Sumampouw memiliki empat saudara namun saya tidak tahu ada berapa yang laki-laki dan berapa yang cukup umur untuk jadi laskar).

Tentu kita juga harus mempertimbangkan alasan-alasan yang lain yang lebih positif, misalnya karena Sumampouw sendiri yang ingin bertualang ke Jawa sehingga dia dengan sukarela mendaftar jadi tentara.  Ini tentu bukan tak ada di antara 1400 calon laskar Minahasa waktu itu.  Sayangnya, terhadap semua pertanyaan seperti ini, saya terpaksa hanya bisa menduga-duga.  Masa-masa di seputar Sumampouw telah sangat kabur, dan tak ada satupun lagi yang kita ketahui sekarang.  Tua-tua Dimpudus di generasi atas kita sekarang sedang berkurang jumlahnya padahal merekalah yang secara waktu lebih dekat dengan Sumampouw serta lebih mungkin mengetahui cerita-cerita tentang Perang Jawa.  Dokumen-dokumen tertulis juga tak ada.

Padahal Sumampouw, berdasarkan silsilah Dimpudus yang tersedia di kami, melahirkan anak-anak yang menggunakan fam Dimpudus.  Salah satunya yaitu anak sulungnya yang bernama Israel.  Anak ini -- jika benar I. Dimpudus dalam ‘Staat der scholen in de Minahasa’ adalah dia -- sudah menjabat onderwijzer di Tonsea Lpada tahun 1868, yakni 38 tahun setelah Perang Jawa usai.  Lalu bagaimana kita bisa menemukan hubungan antara fakta jabatan ini dengan perang Jawa di masa Sumampouw ayah Israel?

Dulu, saya pernah mendengar seseorang (Kuntua Frei Tonsea Lama?) bercerita tentang Perang Jawa—dalam sebuah acara kumpulan atau pesta (?).  Tapi waktu itu saya masih kecil, belum punya minat, dan dengan begitu nyaris tak ada yang saya ingat dari ceritanya.  Sekarang suasana sudah berubah.  Kita mungkin sudah jarang menemukan pesta-pesta yang digelar di halaman rumah dengan meja los beralaskan daun pisang dan sabua berdindingkan warundak.  Sekarang mungkin sudah semakin jarang suasana dimana setelah selesai pesta ada orang tua mulai bercerita tentang silsilah, tentang perang Aceh, tentang perang Jawa, dsb.  Jaman yang berubah telah menghilangkan kesempatan mereka untuk mewariskan cerita-cerita seperti itu.  Kita sekarang seperti sedang berpacu dengan waktu jika hendak mendokumentasikan kisah-kisah mereka.  Apa yang saya lakukan dengan tulisan ini adalah mencoba menggantikan para tua-tua Tonsea itu bercerita tentang Perang Jawa.  Tapi jujur, saya telah gagal.

Siapa Pencetus Teori Evolusi, Darwin atau Wallace?

PENGANTAR

Dalam bulan Februari 2005, saya mengikuti sebuah ekspedisi kecil ke Ternate dan Halmahera.  Salah satu tujuan dari ekspedisi itu adalah untuk melakukan investigasi terhadap “Ternate Paper”, sebuah karya ilmiah yang ditulis oleh Wallace sekitar 150 tahun lalu di sebuah tempat di Halmahera.  Paper ini sangat terkenal karena isinya berisi cikal bakal pemikiran tentang teori evolusi.  Paper ini juga terkenal karena Darwin sebagai bapak evolusi dituduh telah mencuri gagasan dari paper ini.

Seorang di antara peserta ekspedisi itu adalah David Hallmark, seorang pengacara Inggris yang sedang menyusun gugatan publik terhadap Darwin.  Selama perjalanan ke berbagai tempat di Halmahera itu, David telah berbaik hati memberi saya kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang persoalan ini.  Sementara, dari salah seorang rekannya, Paul Sochaczewski, yang memimpin perjalanan ekspedisi dan memiliki gagasan untuk mendirikan museum Wallace di Ternate, saya juga memperoleh bahan-bahan cetakan yang memperkaya pemahaman saya akan topik ini.  Artikel berikut ini saya susun berdasarkan hasil perbincangan dengan David serta dari bahan-bahan cetakan milik Paul yang dia ijinkan untuk saya fotokopi.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Media Sulut tanggal 3 dan 4 Maret 2009.  Disini saya hanya melakukan sedikit perbaikan bahasa saja.  Perlu juga saya tambahkan bahwa kira-kira seminggu sesudah artikel ini diterbitkan oleh Media Sulut, Mingguan Tempo (Jakarta) juga menerbitkan ulasan yang mirip.  Tapi karena saya sudah lebih dulu menerbitkan tulisan saya, saya tak merasa telah mendapat untung apalagi mencuri ide dari adanya ulasan Mingguan Tempo tersebut.  Tulisan ini adalah murni gagasan saya.

***

Posisi Darwin sebagai pencetus teori evolusi sedang goyah.  Bukti-bukti menunjukkan bahwa bukan cuma dia pencetusnyaMalah dia dituduh melakukan plagiarisme.  Beberapa gagasan dari teori yang dia tulis dalam On the Origin of Species konon diilhami dari ide orang lain.  Ironisnya, bukan cuma Darwin yang terlibat disini, tapi juga beberapa ilmuwan ternama, dan mereka adalah teman-teman baiknya.  Benarkah demikian?

Charles Robert Darwin (1809-1882) mengawali karir ilmiahnya ketika usianya masih sangat muda.  Dia baru 22 tahun ketika ikut dengan Beagle (1831), sebuah kapal penelitian yang waktu itu akan berlayar di wilayah Atlantik, Pasific, dan perairan Australia selama 4 tahun untuk eksplorasi ilmiah.  Tapi rasa ingin tahu yang besar telah mendorong Darwin muda ini melakukan penyelidikan terhadap berbagai fenomena alam yang ditemuinya, dan ini mengubah dia menjadi seorang ilmuwan yang disegani.

Fosil rupanya mendapat perhatian khusus Darwin karena selama perjalanan dia membawa buku Principles of Geology, karya Charles Lyell yang baru terbit.  Waktu itu, Lyell adalah ilmuwan terkemuka dan ‘teori-teori liar’ yang dikemukakan dalam buku itu membuat Darwin terpesona.  Menurut Lyell, benua, daratan dan pegunungan tidak dibentuk oleh air bah zaman Nuh, tapi oleh hujan, angin, gempa bumi serta kekuatan alam lainnya.  Lyell menjadi teman Darwin, dan selanjutnya menjadi orang yang amat berperan dalam karir ilmiah Darwin.

Sekembali dari perjalanan, di tengah-tengah kesibukan menyusun laporan serta meneliti spesimen-spesimen yang dikoleksinya, Darwin mulai mengembangkan pemikiran tentang evolusi, antara lain tentang dari mana kah asal jenis.  Dia juga menulis beberapa esai, di antaranya On Transmutation of Species (1837).  Dia meyakini beberapa hal yang waktu itu masih baru dan kontroversial, seperti keanekaragaman hayati tidak muncul karena sekali penciptaan, dan bahwa fosil adalah petunjuk bahwa jenis-jenis telah berganti dari waktu ke waktu.

Dalam bulan Oktober 1838, ketika tidak sengaja membaca karya Thomas Malthus An Essay on the Principle of Population (1803), Darwin merasa menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang tengah memusingkan dia.  Dalam buku itu Malthus menunjukkan bahwa seandainya tak ada perang, kelaparan dan penyakit, populasi manusia niscaya akan memenuhi dunia.  Jadi ada peran seleksi dalam hal ini.  Jika hal ini diterapkan di alam, maka berarti hanya variasi yang menguntungkan saja yang cenderung bertahan dalam kondisi seleksi dan variasi yang tidak menguntungkan akan hancur.  Pemikiran seperti ini membawa Darwin pada penerangan akan apa yang tengah dia pikirkan.  Diapun menulis, “Akhirnya saya menemukan teori untuk mulai bekerja”.

Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, atau juga karena gangguan kesehatan yang sering dialaminya, penulisan teori itu berlangsung lambat.  Selama empat tahun pertama, dia hanya menulis sebuah ringkasan setebal 35 halaman (1822), menyusul dua tahun kemudian sebuah esai setebal 230 halaman (1844).  Yang terakhir ini sempat dia tunjukkan kepada beberapa temannya, tapi yang pertama nampaknya tidak.

Tapi dua karya itu bukan hasil akhirnya.  Darwin yang hati-hati itu masih tetap merasa bahwa teorinya harus dilengkapi dengan bukti-bukti yang lebih banyak sebelum dipublikasikan.  Sementara itu, dia juga sibuk dengan menelaah koleksi-koleksi yang diperoleh dari perjalanan dengan Beagle.  Baru setelah lebih dari 10 tahun, yakni tahun 1855, dia mengaku bahwa dia hendak mulai menulis teorinya.

Tapi kenyataan berbicara lain.  Jauh di seberang lautan, di Kepulauan Indonesia yang terpisah oleh jarak lebih dari setengah keliling bumi, kenalannya yang bernama Alfred Wallace (1823-1913) ternyata sedang bergelut dengan pemikiran yang sama.  Wallace adalah seorang penyelidik alam.  Tapi tidak seperti Darwin yang dibiayai orang tua waktu ikut dengan Beagle, Wallace justru membiayai perjalanannya dari hasil menjual spesimen.  Dia pernah ke Amazon (1848-1852) tapi kemudian menghabiskan sisa waktunya di Indonesia dimana dia menemukan garis khayal yang memisahkan antara binatang-binatang berciri Indonesia barat dan yang berciri Indonesia timur.  Garis ini kemudian dinamai menurut namanya, ‘Garis Wallace’.

Jika Darwin merenungkan teori-teorinya di atas kapal ilmiah, di lingkungan kampus, dan di rumahnya yang tenang di Kent, Inggris, Wallace justru merenungkan itu di tempat-tempat yang terpencil, penuh resiko, jauh dari suasana akademik, dan di sela-sela pekerjaan menangkap, menguliti dan mengeringkan hasil buruan.  Hanya sumber inspirasi mereka yang sama, yaitu Principles of Geology karya Lyell dan An Essay on the Principle of Population karya Malthus.  Wallace membawa buku yang pertama dalam perjalanannya, sedangkan yang buku yang kedua konon hanya dia baca di sebuah perpustakaan umum di Inggris.

Lalu inilah yang kemudian terjadi.  Ketika sedang melewatkan hari-hari berhujan di sebuah cottage kecil di kaki bukit berhutan lebat, tidak jauh dari Kuching, Sarawak, ilham itu datang dan Wallace mulai menulis.  Kali ini agak berbeda karena yang dia tulis bersifat teoritis.  Dia menguraikan sepuluh fakta yang sangat dikenal dalam bidang geografi dan geologi, antara lain, bahwa lingkungan yang mirip akan menghasilkan jenis yang mirip – tidak ada jenis atau kelompok jenis yang muncul dua kali.  Dia kini sampai pada kesimpulan bahwa evolusi harus berlangsung di sepanjang waktu agar bisa dihasilkan jenis-jenis yang berbeda.

Wallace memberi judul esainya itu On the Law which has Regulated the Introduction of New Species dan mengirimnya ke sebuah majalah ilmiah yang kemudian menerbitkannya dalam bulan September 1855.  Karena ditulis di Sarawak, esai itu juga dikenal dengan nama “the Sarawak Law”.

Ketika membaca esai ini, Darwin memberi komentar kepada Wallace lewat sebuah surat, “Saya bisa melihat bahwa kita memiliki pikiran yang sama, dan dalam batas tertentu telah sampai pada kesimpulan yang sama”.  Selain itu, Darwin juga mengingatkan suatu hal, “Musim panas ini merupakan tahun ke-20 sejak saya membuat catatan pertama tentang bagaimana dan dengan cara apa jenis dan varietas bisa berbeda satu sama lain…  Sekarang saya sedang menyiapkan publikasinya walaupun saya tahu subyeknya sangat luas…”  Disini Darwin sebenarnya hendak mengatakan bahwa dia juga sedang menyiapkan teorinya.

Tapi Wallace tak tinggal diam.  Sarawak Law masih menuntun dia pada pemikiran berikutnya.  Pikirnya, jenis-jenis berubah menjadi jenis baru karena ‘suksesi alam’.  Jika perubahan itu berlangsung terus, berarti dunia akan penuh jenis.  Tapi kenyataannya tidak karena sebagaimana kata Principles of Geology, jenis juga bisa punah dan menjadi fosil,.  Berarti di alam ada proses yang mengatur kepunahan jenis.  Tapi bagaimana proses itu berlangsung?

Jawaban atas pertanyaan itu datang dalam bulan Februari 1858 sewaktu Wallace di Maluku.  Waktu itu dia tengah terbaring oleh serangan malaria dan teringat akan buku Malthus, Principles of Population, yang dia baca sekitar 12 tahun lalu.  Inspirasi dari buku itu menuntun dia untuk menulis sebuah esai yang judulnya On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type.  Karena dibuat di Ternate, esai ini kemudian dikenal dengan nama ‘Ternate Paper’ (meskipun penelitian terakhir menunjukkan bahwa esai ini sebenarnya ditulis di Dodinga, sebuah desa kecil di Halmahera).

Darwin menjadi orang pertama yang membaca esai itu karena Wallace mengirimnya ke dia.  Artikel tersebut juga disertai dengan sebuah surat yang meminta Darwin untuk meneruskan artikel tersebut ke Lyell seandainya layak untuk diterbitkan.  Betapa terkejutnya Darwin.  Apa yang digelutinya selama lebih dari 20 tahun, sekarang sudah diringkas oleh Wallace menjadi sebuah esai yang tebalnya hanya beberapa halaman.  Darwin langsung frustasi.  Kepada Lyell dia menulis dengan kecewa, “Tak pernah saya jumpai kebetulan yang begitu mengejutkan…..  Dengan begitu seluruh keaslian gagasan saya, apapun nilainya, akan terpukul…… Lebih baik saya bakar buku itu daripada dianggap berjiwa rendah oleh Wallace atau oleh siapa pun”.

Sebelumnya, Darwin memang pernah mengaku kepada Lyell bahwa dia sudah menyusun teorinya dalam bentuk buku setebal 11 bab.

Lyell menyadari adanya krisis.  Atas nama ilmu pengetahuan, Darwin tak boleh dibiarkan, demikian Lyell.  Lyell lalu menghubungi temannya Sir Joseph Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew.  Berdua mereka lalu menyusun rencana.  Darwin akan dibujuk supaya mau memublikasikan beberapa karya sebelumnya, dan Linnean Society akan mereka intervensi supaya jangan hanya menerbitkan karya Wallace saja tapi juga karya Darwin secara bersama-sama.  Linnean Society adalah sebuah perkumpulan ilmiah bergengsi di Inggris yang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas karya-karya ilmiah para peneliti.

Skenario dua petinggi ilmiah Inggris ini berhasil.  Pada tanggal 1 Juli 1858, sebanyak 28 anggota Linnean Society dan 2 orang undangan berkumpul untuk – salah satunya – mendengar dan membahas karya Darwin-Wallace.  Tapi sayang, kedua penulis ini tak bisa hadir; Darwin sedang menguburkan anaknya yang meninggal sementara Wallace yang kurang dikenal sedang berada di Manokwari, Papua.

Untung semua bisa berjalan sesuai rencana.  Darwin luput dari kasus ‘dipermalukan’ oleh Wallace yang lebih muda dan hanya pengumpul spesimen, sementara proceeding pertemuan Linnean Society juga memberi dia legitimasi yang kuat bahwa ‘teori evolusi berdasarkan seleksi alam’ telah lahir secara bersamaan dari dia dan Wallace.

Darwin pun tenang dan melanjutkan pekerjaannya.  Dia merampungkan edisi pertama dari On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for life, dan menerbitkannya pada tahun berikutnya.  Buku ini sangat terkenal, tapi kontroversi yang ditimbulkannya juga sangat hebat.  Badai kritik dan bahkan kutuk langsung berkecamuk begitu buku ini terbit.  Darwin dituduh telah menyangkal Tuhan.  Tapi meskipun begitu, dia memperoleh gelar ‘pencetus teori evolusi’.  Sementara itu, Wallace dilupakan orang.

Sekarang, 150 tahun sudah berlalu.  Tapi cerita di balik pertemuan Linnean Society tanggal 1 Juli 1858 itu ternyata menyisakan bau yang tak sedap.  Bagaimana tidak.  Darwin mengaku menerima Ternate Paper pada tanggal 18 Juni 1858, sementara paper itu ditandatangani Wallace pada bulan Februari 1858.  Artinya, paper itu butuh waktu empat bulan untuk mencapai Inggris dari Ternate.  Ini sedikit janggal.  Dengan kondisi pos waktu itu, Ternate Paper seharusnya sudah sampai di tangan Darwin paling tidak seminggu sebelum tanggal 18 Juni.  Buktinya, sebuah surat lain yang juga dikirim Wallace ke Leicester pada waktu yang bersamaan, ternyata telah tiba di Leicester pada tanggal 3 Juni.  Mengapa paper yang dikirim ke Darwin di Kent harus terlambat dua minggu?

Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan ini akan tetap menjadi misteri karena surat serta amplop yang menyertai Ternate Paper telah hilang.  Parahnya, kehilangan ini nampaknya disengaja pula.  Darwin biasanya sangat rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen korespondensinya, anehnya, kini hanya dokumen itu saja yang hilang dari arsipnya.  Ada tuduhan, amplop itu sengaja dihilangkan oleh seorang anaknya, mungkin atas perintah Darwin.  Jika semua itu benar, mengapa Darwin melakukannya?

Darwin telah menggumuli teori evolusi lebih dari 20 tahun.  Ada beberapa pertanyaan yang belum bisa dia jawab.  Tapi mendadak jawaban itu dia temukan dalam Ternate Paper.  Apakah Darwin mau mengakuinya?  Tidak.  Coba lihat.  Pada tanggal 8 Juni Darwin tiba-tiba menyurat ke Hooker dan mengatakan bahwa jawabannya sudah dia temukan.  Ini sepertinya hal yang biasa.  Tapi kalau kita berpatokan pada tanggal terima surat yang ke Leicester (3 Juni), maka surat ke Hooker itu dia buat sesudah kira-kira 4 atau 5 hari dia menerima Ternate Paper dari Wallace.  Jadi dia sudah membaca gagasan Wallace dan disitu dia menemukan jawabannya.  Tapi untuk menyembunyikan hal ini, dia mengarang cerita bahwa Ternate Paper dia terima pada tanggal 18 Juni.  Untuk menyempurnakannya, dia pun melenyapkan amplop yang mengandung bukti tanggal cap pos.

Lyell dan Hooker, sebagamana dikemukakan di atas, memang ikut memuluskan langkah Darwin untuk memenangkan persaingan.  Sebagaimana disebutkan di atas, dalam surat yang menyertai Ternate Paper, Wallace telah meminta Darwin untuk memberikan paper itu ke Lyell untuk diterbitkan.  Darwin memang memenuhinya.  Tapi itu dilakukan dengan ancaman ke Lyell bahwa dia akan membakar buku yang sedang ditulisnya.  Sebagai teman, Lyell langsung terpengaruh sekalipun dia belum pernah melihat buku yang sedang ditulis Darwin itu.  Lyell sadar seandainya Ternate Paper langsung dipublikasikan, Darwin pasti akan kalah.  Jadi, bersama-sama dengan Hooker, dia berusaha untuk menghalangi Wallace.  Cara yang sopan yaitu dengan memublikasikan Ternate Paper bersama-sama dengan karya Darwin agar kesan yang timbul yaitu teori evolusi tak hanya ditemukan oleh Wallace.

Tapi Darwin ternyata tak siap.  Jadi yang kemudian dibacakan di pertemuan Linnean Society bukan karya baru melainkan dua karya lama, masing-masing Ringkasan dari Manuskrip Tentang Jenis yang Ditulis Tahun 1839 dan Disalin tahun 1844 dan Ringkasan dari Surat yang Dikirim ke Prof. Asa Gray di Boston, Amerika, pada Bulan Oktober 1857.

Lantas dimana buku 11 bab yang hendak dia bakar itu?  Mengapa dia tak membuat saja ringkasannya, bukankah itu yang lebih baru?  Ada dua kemungkinan disini.  Pertama, waktu Darwin sangat sempit.  Dia tak sempat membuat ringkasan, dan dua karya daur ulang itu (khususnya manuskrip tentang jenis) dia anggap cukup untuk mewakili gagasannya.  Kedua, buku 11 bab itu memang tidak ada, belum ada, atau cuma ada dalam angan-angan Darwin saja.

Pertemuan Linnean Society sendiri juga diwarnai oleh ketakberesan.  Lyell dan Hooker baru memberitahu rencana pembacaan paper Darwin-Wallace sehari sebelum pertemuan berlangsung.  Nada pemberitahuannya pun agak mendesak, yaitu agar Sekretaris Perkumpulan menyelipkan agenda tambahan untuk pembacaan dua paper itu.  Karena paper Darwin-Wallace baru diserahkan, isinya pun baru diketahui oleh peserta ketika pertemuan berlangsung.  Tak ada kesempatan untuk menelaahnya.  Ini mempengaruhi jalannya diskusi.  Banyak peserta bertanya-tanya, sementara sebagian justru diam karena topiknya ‘terlalu baru’ untuk ukuran waktu itu.

Lebih parah lagi, ketika pertemuan berlangsung, bukan karya Wallace yang dibacakan lebih dulu, tapi justru karya Darwin yang ‘daur ulang’ itu.  Jelas, Lyell dan Hooker bertanggungjawab akan hal ini.


Kita mungkin bertanya, mengapa Wallace begitu bodoh sampai harus mengirimkan Ternate Paper ke Darwin?  Mengapa misalnya dia tidak langsung saja mengirimnya ke pengelola jurnal atau penerbit?  Bukankah ini yang dia lakukan dengan Sarawak Law?  Jawabnya adalah, Wallace hendak menunjukkan rasa hormatnya kepada Darwin yang senior.  Dari tanggapan Darwin terhadap Sarawak Law sebelumnya, Wallace tahu kalau Darwin tertarik dengan topik itu.  Makanya, ketika Ternate Paper selesai, Wallace merasa perlu untuk mengirim terlebih dahulu ke Darwin karena ini adalah pengembangan gagasan dari Sarawak Law.  Darwin pasti akan tertarik.  Kita lihat disini, betapa lainnya sejarah seandainya Wallace tidak mengirim Ternate Paper ke Darwin.

Menyoal asal-usul Mongolia orang Minahasa

Suatu hari ketika sedang mendampingi bos ke lapangan, mobil yang kami tumpangi bertemu dengan kemacetan di pusat kota Tomohon.  Waktu itu jam usai sekolah dan jalan-jalan dipadati oleh anak sekolah.  Dalam keadaan mobil sedang melambat karena mereka menyita sebagian jalan atau menyeberang seenaknya, tiba-tiba bos menyelutuk, ‘Benar juga kata orang, orang Minahasa itu putih-putih seperti orang China’.

Saya tersenyum, membiarkan bos dengan pendapatnya.  Tapi sopir yang menyetir di samping bos, yang sejak awal memang suka ikut nimbrung bila ada yang ditanyakan bos mengenai sesuatu yang dia lihat dijalan, tiba-tiba memberi tangggapan, ‘Iya Pak.  Orang Minahasa kan keturunan Mongol’.  Karena bos terlihat penasaran dengan kata-kata itu, si sopir melanjutkan tanggapannya dengan cerita yang meyakinkan.

Saya cuma diam.  Tapi dalam hati saya prihatin.  Sopir ini adalah sopir yang biasa mangkal di Bandara Sam Ratulangi, menjual jasa antaran bagi tamu-tamu yang turun dari pesawat.  Profesi seperti ini, menempatkan dia pada jajaran orang pertama Sulawesi Utara yang akan dijumpai tamu dari luar bila berkunjung ke daerah ini.  Jika cerita seperti ini dia ceritakan pada setiap tamu yang menumpang di mobilnya, bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan percaya bahwa orang Minahasa keturunan orang Mongol.  Tapi rupanya orang memang harus percaya.  Belakangan ketika saya cek di internet, apa yang dia ceritakan itu ternyata bertebaran di banyak situs.   Salah satunya bahkan di Wikipedia tempat orang biasanya mencari refrensi.

Di tengah-tengah minimnya buku sejarah Minahasa yang standar, ini adalah gejala yang tak menggembirakan menurut saya.  Siapa bilang orang Minahasa keturunan Mongol?  Tapi karena beredar di internet dan internet sekarang makin mudah, cerita ini justru yang akan paling gampang dibaca orang, diingat, diunduh, bahkan dijadikan refrensi oleh anak-anak sekolah yang sedang mencari bahan untuk tugas paper-nya.

Lalu apa sebenarnya cerita yang memprihatinkan itu?  Berikut ini adalah garis besarnya.  Saya ambil dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Toar_dan_Lumimuut (tanggal 20 Oktober 2015, jam 17.55).  Leluhur orang Minahasa namanya Toar Lahope.  Dia adalah seorang panglima Genghis Khan yang memimpin penaklukan atas ‘seluruh benua Eurasia’.  Dia memiliki seorang kekasih yang cantik, yaitu seorang pelayan istana yang bernama Lumimuut.  Tapi anak Genghis Khan yang bernama Ogedei juga jatuh cinta pada Lumimuut, dan ini membuat Ogedei berencana membunuh Toar Lahope melalui sepasukan pembunuh.  Toar Lahope pun berusaha melarikan diri bersama Lumimuut, tapi mereka kepergok ketika hendak berlayar.  Jadi Toar Lahope beserta anak buahnya harus bertempur melawan pasukan pembunuh itu.  Sementara Lumimuut, berhasil berlayar ke suatu tempat yang sudah disepakati sebelumnya dengan Toar Lahope.

Setelah pertempuran, Toar Lahope bersembunyi di wilayah Xia selama dua tahun.  Sesudah itu dia menyusul Lumimuut.  Tanpa diuraikan bagaimana perjalanannya, kapalnya dikatakan mendarat di Lihaga, sebuah pulau kecil di lepas pantai Likupang, Minahasa Utara.  Setelah sempat berpindah ke Talise dan Bangka (dua pulau yang terletak di dekat Lihaga) untuk mencari Lumimuut, informasi dari orang-orang di pulau Bangka menuntun Lahope ke Likupang di daratan Minahasa.  Disitu dia bertemu Lumimuut beserta rombongannya; Lumimuut sudah tinggal bersama pemimpin (atau yang dituakan di) Likupang, seorang wanita tua yang bernama Karema.  Oleh wanita tua ini, Toar Lahope dan Lumimuut dinikahkan pada tahun 1218.

Tapi setelah tiga tahun kemudian, pasukan Ogedei ternyata berhasil menyusul ke Likupang.  Ini membuat Toar Lahope memindahkan rombongannya ke daerah pedalaman, yaitu ke Kanonang.  Disini dia katanya meninggal dunia dalam usia 86 tahun pada tahun 1269.

Sebagai sebuah kisah petualangan, cerita ini menurut saya luar biasa.  Kalau dinovelkan, dia bisa disetarakan dengan karya Jules Verne ‘’Keliling Dunia Dalam 80 Hari’.  Namun demikian, kalau cerita ini dibuat untuk menjelaskan sejarah asal-usul orang Minahasa, ini jelas pemutarbalikan fakta.  Pertama karena logikanya yang amburadul; kedua karena perlakuannya yang buruk terhadap mitologi asal-usul Minahasa; ketiga karena siapapun yang bisa mengakses internet, bisa menganggap cerita ini fakta dan menjadikannya refrensi.

Genghis Khan memulai imperium Mongol-nya pada tahun 1206.  Dia diidentikkan dengan kebrutalan karena kisah-kisah pembentukan imperiumnya diwarnai dengan penghancuran total dan darah.  Tapi dia juga bisa diidentikkan dengan pedalaman.  Dia lahir di sebuah desa yang terletak lebih dari 1000 km dari pantai yang paling dekat.  Suku-suku pengembara yang membantunya juga berasal dari pedalaman, imperiumnya terbentang di pedalaman benua Asia (walaupun ketika meninggal, cakupannya sudah sampai ke pantai-pantai Tiongkok Utara, Korea dan Siberia Timur).  Jadi semua daerah yang terletak di seberang lautan, apalagi Kepulauan Indonesia yang puluhan ribu kilometer di sebelah tenggara, pasti tidak dia kenal.

Toar Lahope adalah seorang panglima Genghis, bahkan cerita di atas memberi kesan dia satu-satunya panglima.  Dia juga dikatakan terlibat dalam penaklukan atas seluruh benua Eurasia.  Tapi saya sendiri tidak menemukan nama ini dalam sumber-sumber yang saya periksa.  Malah menurut saya nama ini terasa asing kalau disandingkan dengan beberapa nama Mongol yang ada dalam sumber-sumber itu.  Jadi kecuali saya yang tidak berhasil menemukan, dan ini ada kemungkinan, tokoh ini menurut saya meragukan.  Saya juga harus mengatakan bahwa pernyataan Genghis Khan menaklukkan seluruh Benua Eurasia adalah keliru.  Eropa Barat di luar kekuasaan dia.

Sebagai panglima utama, saya yakin Toar Lahope sama seperti Genghis.  Dia berasal dari suku-suku pedalaman, khususnya daerah timur-laut Tiongkok.  Suku-suku yang membantunya pertama kali juga begitu.  Dengan begitu Toar Lahope bisa dipastikan bukan pelaut, dan pasti tidak tahu apa-apa dengan daerah-daerah yang terletak di seberang laut dari daratan Tiongkok.  Untuk Indonesia, pengetahuan seperti ini hanya ada di kalangan penduduk pesisir tenggara, khususnya di daerah Fujian dimana sejumlah kota pelabuhan terdapat dan mungkin telah berkembang dari sejak Dinasti Tang (618-907).

Tapi pengetahuan itu berkembang perlahan-lahan.  Pedagang-pedagang dari dinasti sebelum Genghis, yaitu Song (960-1279), baru menjangkau bagian barat Indonesia.  Bagian timur Indonesia masih belum, tapi Laut Sulawesi mungkin sudah dikunjungi secara sporadik.  Bagian timur Indonesia baru menunjukkan tanda-tanda sudah dicapai pada waktu Kubilai Khan berkuasa (1260-1294).  Tapi ini setelah Genghis meninggal (1227).  Pada waktu itu beberapa nama tempat di bagian timur Indonesia muncul dalam laporan mereka, di antaranya yaitu Banda dan Banggai.  Salah satu dari laporan pertama itu terbit tahun 1304, tujuh puluh tujuh tahun setelah Genghis meninggal (lihat mis. Ptak, 2000:26-29).

Karena dalam cerita di atas Toar Lahope sudah muncul di Likupang sebelum tahun 1218, dan ini 86 tahun sebelum laporan pertama tentang tempat-tempat di bagian timur Indonesia muncul dalam laporan Dinasti Yuan (Mongol), ini merupakan hal yang luar biasa.  Toar Lahope memang bisa menyewa penunjuk jalan di daerah Fujian—disini pasti terdapat orang-orang yang sudah pernah berlayar ke Indonesia.  Tapi untuk mencapai daerah ini dia harus melintasi wilayah sepanjang ribuan kilometer yang bukan taklukan Mongol.  Sementara di pelabuhan juga belum tentu ada orang Tionghoa yang mau sekapal dengan sekelompok suku nomaden yang terkenal brutal ini.  Jadi alternatifnya dia harus harus ke pesisir utara Tiongkok.  Disini relatif lebih aman meski jarak ke Indonesia lebih jauh.  Tapi disini, kemungkinan besar juga dia tidak akan menjumpai orang yang pernah mendengar Indonesia.  Jadi bagaimana Lahope maupun Lumimuut meninggalkan Tiongkok, bagi saya masih merupakan persoalan.

Pada sisi yang lain, dia juga harus memecahkan masalah iklim, setidaknya untuk calon isterinya yang masih muda itu.  Dari jantung Benua Asia ke sebuah tempat di bagian utara Minahasa, orang-orang Mongol yang terbiasa dengan padang gurun dan stepa yang kering ini—terik di siang hari tapi membeku di malam hari—harus bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis yang hangat dan lembab di bagian utara Minahasa.  Sementara di antara dua wilayah ini, juga terdapat beberapa laut yang terkenal dengan topan ganasnya.  Di masa eksplorasi laut bangsa-bangsa Eropa, sekitar 200 tahun kemudian, tak terhitung kapal yang tenggelam di perairan Laut China Selatan, Filipina dan barat daya Indonesia.  Makanya, saya kira tidak berlebihan jika membayangkan bahwa termasuk dalam persiapan perjalanan itu, Lahope telah menyewa seorang tabib Tionghoa untuk memastikan Lumimuut tidak selesma dan mabuk laut dalam perjalanan.

Ternyata Ogudei bisa menyusul Lahope ke Likupang, dan ini tidak pernah dicatat dalam sejarah Mongol bahwa seorang Ogudei pernah berlayar ke Asia Tenggara.  Ini adalah sebuah kecelakaan sejarah, tapi ini justru yang membuat Toar Lahope memutuskan untuk pindah ke Kanonang dan.  Karena Kanonang terletak di daerah pedalaman, dia dan rombongannya tentu harus long march.  Disini Lahope rupanya lupa membawa kuda-kuda Mongol yang terkenal itu karena yang tercatat dalam sejarah memasukkan kuda pertama kali ke Minahasa adalah orang Spanyol.

Rute terbaik untuk mencapai Kanonang dari Likupang adalah yang melewati lereng barat gunung Klabat.  Tapi disini persoalan berikut bisa muncul.  Rute ini bisa membawa Toar Lahope ke Desa Tatelu sekarang.  Seandainya ini terjadi dan dia tak sengaja lewat di sebuah waruga yang terletak dekat pemukiman yang sekarang, Lumimuut kemungkinan besar akan syok dan pingsan.  Waruga itu adalah kubur dari seorang keturunannya yang meninggal 16 abad sebelum dia kawin.  Persoalan yang sama juga akan terjadi seandainya dalam perjalanan selanjutnya dia kesasar lagi dan lewat Desa Woloan sekarang.  Di desa ini juga terdapat beberapa kubur keturunan mereka yang meninggal sekitar satu milenium sebelum mereka kawin.  Jadi Lahope memang harus hati-hati benar dalam memilih rute.

Terlepas dari persoalan-persoalan di atas, Toar Lahope sebenarnya orang tua yang patut berbahagia.  Dia meninggal dalam usia yang lanjut yaitu 86 tahun, dan setelah 410 tahun meninggal Gubernur Robertus Padtbrugge yang datang ke Manado (1679) mencatat bahwa keturunannya sudah membentuk sekitar 20 kelompok yang tersebar di seantero Minahasa.  Gubernur Maluku ini datang dengan maksud membuat kontrak 16 Januari 1679 yang terkenal itu.  Tapi sayang, apa yang dicatat oleh sang gubernur ini rupanya menjadi persoalan besar bagi eksistensi Lahope.  Kelompok-kelompok keturunannya yang dicatat itu ternyata telah menuturkan delapan bahasa yang berbeda.  Ini bakal dipersoalkan ahli-ahli bahasa.  Sebuah bahasa menurut mereka, baru akan pecah menjadi bahasa-bahasa dengan perbedaan di antara mereka kira-kira 50%, setelah sekurangnya 1500 tahun (prosentase menunjukkan perbedaan kata-kata kerabat di antara bahasa-bahasa turunan).  Tapi Lahope melakukannya hanya dalam 410 tahun (Molsbergen, 1928:55; Keraf, 1996:125).

Persoalan berikut lebih parah lagi.  Lahope dan Lumimuut pasti menggunakan bahasa Mongolic (kalau tidak, apa nanti kata Genghis Khan).  Sementara sebelas kelompok keturunannya menggunakan bahasa-bahasa Austronesia.  Ini adalah dua kelompok bahasa yang perbedaannya seperti langit dan bumi (sudah setingkat famili atau rumpun).  Pertanyaannya, bagaimana itu bisa terjadi dalam waktu 410 tahun?  Jawaban satu-satunya yang masuk akal, Karema telah memberi kursus bahasa pada mereka.  Karema orang asli Likupang, dia pasti menguasai bahasa-bahasa Minahasa.  Cuma memang ini akan membuat wanita tua ini sibuk kalau tidak kelelahan.  Dia harus membagi pendatang-pendatang Mongol itu ke dalam delapan kelompok, sesudah itu dia harus mengajar mereka bahasa-bahasa yang berbeda.  Selebihnya dia mungkin harus mengeluarkan larangan keras agar tidak menggunakan bahasa Mongol kalau sudah di Minahasa.  Sayang tak diceritakan bahasa apa yang dipakai ketika mereka pertama bertemu di Likupang.

Dengan semua persoalan di atas, saya kira cerita mengenai Toar Lahope dan orang Minahasa keturunan Mongol adalah sebuah kebohongan.  Bukan cuma itu, cerita itu juga berbahaya.  Mengapa?  Karena sekalipun hanya iseng, atau hanya diperuntukkan buat penggemar fiksi, pemajangan cerita ini di internet akan membuat mesin-mesin pencari menemukannya di bawah entri nama Toar, Lumimuut, dan Minahasa.  Ini adalah sebuah bully bagi identitas Minahasa.

Cerita tentang Toar dan Lumimuut bagi saya seharusnya tidak boleh diapa-apakan.  Cerita ini bukan cerita biasa.  Cerita ini adalah sebuah cerita mitologi, dimana salah satu cirinya adalah adanya unsur-unsur gaib yang menyertai kemunculan manusia pertama, dan ini dipercaya oleh pemilik cerita sebagai kebenaran.  Cerita ini adalah bagian dari kepercayaan asli Minahasa.  Sebagaimana cerita Adam dan Hawa dalam kitab-kitab suci agama Kristen dan Islam, cerita ini mengandung pesan, ajaran dan nilai-nilai yang harus dipahami dalam konteks religi asli Minahasa.

Tapi dalam cerita di atas, semua yang menyangkut kepercayaan tentang asal-usul dibongkar habis, dan kesuciannya sebagai sebuah unsur religi dikotori.  Toar dijadikan panglima Mongol dengan fam Lahope yang dikejar-kejar oleh Ogudei padahal dia adalah lambang kekuatan, dsb.  Lumimuut dijadikan pelayan istana padahal dia adalah dewi yang melambangkan bumi, kesuburan, dsb.  Karema diturunkan pangkat menjadi kepala kampung Likupang padahal dia adalah imam pertama, pencipta dunia, dsb (lihat mis. Graafland, 1987:87).  Jalan ceritanya apalagi.  Proses kehamilan Lumimuut yang melambangkan penyatuan kekuatan langit dan bumi dihilangkan, sementara perjalanan ‘keliling dunia’ yang mungkin mengandung makna kosmologi (maaf kala saya salah) juga dihilangkan.  Lalu apa maksudnya?

Sekali lagi, jika pengubahan itu dimaksud untuk memecahkan persoalan asal-usul penduduk Minahasa, maksud itu jelas gagal.  Pengarangnya jelas tidak mampu memanfaatkan publikasi-publikasi yang lebih mutahir.  Sebaliknya dia memanfaatkan spekulasi-spekulasi lama yang mencurigai adanya hubungan Minahasa dan Asia Timur—bahwa orang Minahasa berbeda karena memiliki warna kulit yang lebih terang, orang Minahasa berbeda karena memiliki lipatan mongolia (mongoolsche plooi atau epikantik), orang Minahasa membangun waruga yang bentuknya tiada berbeda djaoeh dengan bangoennja roemah berhala orang Mongolie serta Urn (tempat aboe dari mait jang dibakar) dari bangsa Beloedhistan (Panawuot, n.d:7).

Padahal semua kecurigaan seperti itu sudah kadaluwarsa, karena warna kulit yang lebih terang tidak hanya ada pada orang Minahasa (banyak suku di Indonesia juga punya).  Epikantik juga bukan cuma ciri orang Minahasa dan Asia Timur melainkan ada di beberapa bagian India, Afrika, dan Amerika.  Sementara kemiripan waruga dengan bentuk rumah berhala orang Mongolie juga tidak bisa langsung dijadikan argumen untuk memastikan ada hubungan langsung antara Minahasa dan Mongolia.  Karena kemiripan waruga dengan benda-benda arkeologis lain di luar Minahasa lebih dikarenakan proses-proses yang menyertai penyebaran budaya megalitik, dan ini jika kita korek lebih justru akan semakin menjauhkan Minahasa dari Mongolia.

Tapi mau apa lagi.  Dalam berbagai cara, mengaitkan asal-usul lokal dengan tokoh atau bangsa-bangsa luar rupanya gejala yang cukup umum.  Di Banten, silsilah raja-rajanya bermula dari Nabi Muhamad, bahkan dalam salah satu versi, bermula dari Nabi Adam (Djajadiningrat, 1983:17, 117).  Di Sangihe, pendiri Kerajaan Tampunganglawo, yaitu Gumansalangi, adalah putra dari seorang penguasa di bagian selatan Filipina yang beristerikan permaisuri asal Kesultanan Ternate (Walandungo, 2001:5-10).  Di beberapa bagian Indonesia, asal-usul penguasa yang dikaitkan dengan penguasa Makedonia, Alexander Agung, dengan tokoh-tokoh Mahabharata, dengan nabi-nabi dalam Al Quran maupun Alkitab, dsb. (Chambert-Loir, 2004)  Menariknya, yang terakhir ini juga ada di Minahasa.  Pendeta J.A.T. Schwarz dalam Tontemboansce Texten (Schwarz, 1907:394) merekam sebuah versi Toar-Lumimuut yang mengatakan bahwa Lumimuut adalah anak perempuan dari Adam dan Eva (lihat juga Graafland, 1987:85-7).

Sebagaimana cerita tentang Toar Lahope, cerita-cerita di atas tentu bukan cerita yang orsinil.   Versi aslinya pasti ada, tapi versi itu telah hilang atau tak bisa dilacak lagi, dan versi seperti di atas telah menggantikannya.  Mengapa bisa begitu?  Jawabnya adalah karena sejumlah faktor eksternal telah berperan, dan itu adalah ajaran Islam untuk silsilah Banten, ajaran Kristen untuk cerita Toar-Lumimuut versi Schwarz, dan mungkin superioritas Filipina Selatan dan Ternate untuk cerita Gumansalangi.

Lantas bagaimana mungkin keaslian sebuah mitologi bisa diutak-atik padahal itu adalah unsur dari sebuah religi asli?  Jawabnya sederhana, mitologi bisa dipreteli manakala religi asli yang menjadi pondasinya telah digeser oleh nilai-nilai yang lebih baru, yang datang dari agama, ilmu pengetahuan, modernisasi, maupun faktor eksternal lain.  Untuk Minahasa, cerita Toar Lahope adalah contoh yang paling baik.  Ketika religi asli Minahasa habis tergilas oleh agama, ilmu pengetahuan dan modernisasi, mitologi Toar dan Lumimuut kehilangan tempat berpijak.  Apalah artinya mempertahankan keasliannya, ketika itu terlihat usang dari kacamata kekinian kita sekarang.  Toar, Lumimuut, Karema harus diberi pakaian baru kalau hendak memajangnya di internet.


Jika mitologi bisa mengalami hal seperti itu, bahasa jangan ditanya lagi.  Bahasa Tombulu, Tontemboan, Tonsea, dst. harus secepatnya disingkirkan dari tanah Minahasa.  Karena akan sangat memalukan kalau sampai anak-anak kita menggunakannya sewaktu jalan-jalan di Mall.  Kampungan!  Jadi saat ini mungkin sudah datang era dimana kita memang harus mengucapkan selamat tinggal kepada Toar yang lahir dari benih angin barat, dan menyambut datangnya Toar Lahope yang lahir di Mongolia.